DOKTER Spesialis Dermatologi dan Venereologi, dr Amelia Soebyanto, Sp.DV menjelaskan kalau faktor cuaca dan polusi dapat menjadi salah satu peranan penting menyebabkan kulit gatal.
Menurutnya, secara patogenesis kulit merupakan organ terluas dan terluar dari bagian tubuh. Untuk itu, jika polusi masuk ke dalam kulit, maka menghasilkan radikal bebas yang dapat menurunkan kemampuan antioksidan kulit, baik secara enzimatik maupun non-enzimatik.
“Barier kulit yang rusak ini kemudian akan menyebabkan hilangnya air dalam jumlah banyak pada kulit. Kulit akan relatif lebih kering dan mudah mengalami peradangan dan menimbulkan keluhan gatal,” kata dr Amelia dikutip dalam acara Media Briefing Klinik Pramudia, di kawasan Menteng, Jakarta, Rabu (22/11/2023).
Selain itu, generasi Z atau seseorang dengan kalangan usia 13-27 tahun juga berpotensi lebih besar terdampak masalah ini. Sebab, generasi Z dianggap lebih banyak memiliki aktivitas outdoor sehingga akan lebih rentan terhadap masalah kulit.

Akan tetapi, dr Amelia mengatakan kerusakan pada kulit seperti gatal, masih bisa dilakukan pencegahan dengan melakukan perawatan rutin pada kulit misalnya rutin membersihkan kulit minimal dua kali sehari dengan sabun yang lembut, meggunakan mosturizer dan tabir surya, serta jika perlu mengonsumsi suplemen yang sesuai dengan jenis dan tipe kulit penderitanya, serta tidak lupa dibantu juga konsumsi minum air putih.
“Selain itu, mengurangi paparan dengan polusi seperti mengurangi aktivitas di luar rumah dan menggunakan masker juga tidak kalah penting,” ucap dr Amelia.
Untuk itu, jangan pernah menganggap remeh cuaca ekstrim dan polusi. Namun apabila kulit sudah mulai timbul rasa gatal atau kemerahan jangan dibiarkan lama tanpa pengobatan, karena akan semakin parah dan lama kelamaan bisa mengganggu kualitas hidup seseorang.