Hingga kini pembagian nasi jangkrik menjadi salah satu bagian dalam tradisi buka luwur yang masih terus dilestarikan. Pembagian nasi jangkrik sendiri bertujuan untuk menumbuhkan rasa saling berbagi terhadap sesama, terutama kepada yang membutuhkan.
Uniknya, bahan-bahan yang dibutuhkan dalam mengolah nasi jangkrik berasal dari sumbangan masyarakat, baik dalam bentuk kerbau, kambing, beras, dan lainnya.
Pengolahannya pun melibatkan sukarelawan, atau biasa disebut dengan istilah perewang, yang jumlahnya dapat mencapai lebih dari 1.000 perewang.
(Foto: ANTARA/Yusuf Nugroho)
Nasi jangkrik sendiri terdiri dari nasi dengan lauk olahan daging kerbau yang dipotong dadu. Seporsi nasi jangkrik terdiri dari nasi putih, olahan daging kerbau, tahu, ada juga yang ditambah krecek dengan kuah bersantan nyemek atau sekadar basah.
Perpaduan yang didapat selain gurih juga pedas yang berasal dari sambal sebagai pelengkap dalam nasi jangkrik.
Penyajian nasi jangkrik sendiri memertahankan kearifan ekologis dengan menggunakan bungkus atau lemek daun jati. Selain memiliki makna kesederhanaan, daun jati juga menambah khas aroma nasi yang secara psikologis dapat mendongkrak nafsu makan, sebab makanan terasa lebih lezat.
(Rizka Diputra)
Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.