BAU kentut seseorang memang menentukan kondisi kesehatan tubuh mereka. Tapi, selain kondisi kesehatan apa yang masuk dalam mulut kita juga bisa membuat kentut kita berbau busuk atau tidak.
Menurut Dr. Ali Rezaie, ahli gastroenterologi di Cedars Sinai di Los Angeles, kentut yang berbau biasanya dimulai dengan karbohidrat, terutama yang tidak larut yang berhasil melewati lambung dan saluran usus bagian atas tanpa diserap.
Dr. Ali mengungkapkan, bakteri yang menghuni usus besar akan berkembang biak dengan sangat cepat menggunakan gula yang tidak terserap, yang diumpamakan olehnya seperti bahan bakar beroktan tinggi. Ditambahkan Dr. Eric Goldstein, ahli gastroenterologi di Mount Sinai Medical Center di New York City, makanan kaya belerang termasuk kacang-kacangan seperti lentil, buncis, kacang polong dan brassica seperti brokoli dan kubis juga bisa menyebabkan kentut bau.
Dr. Eric menyebut, sayuran berserat ini juga mengandung karbohidrat tidak larut yang dapat diubah oleh bakteri di usus besar menjadi gas berbau busuk, sebagaimana dihimpun dari Live Science.
Meski begitu, Dr. Ali dan Dr. Eric menekankan bahwa masih banyak faktor lain yang dapat mempengaruhi volume dan bau kentut seseorang. Menurutnya, berapa orang memiliki kepekaan terhadap makanan yang unik berdasarkan mikrobioma usus mereka.
"Gula yang tidak larut umumnya menjadi penyebab timbulnya gas berbahaya, namun tidak ada makanan universal yang menjadi penyebab. Produksi gas bakteri di usus kita tidak hanya bergantung pada apa yang Anda makan,” kata Dr. Ali.
Faktor-faktor lain seperti motilitas usus, perubahan komposisi bakteri, dan berapa lama waktu yang dibutuhkan makanan untuk melewati usus juga mempengaruhi bagaimana kentut bisa memiliki bau busuk, menurut Dr. Eric.
Terlebih lagi, ungkapnya, kentut juga terdiri dari udara yang tertelan dan gas yang menyebar dari aliran darah, yang juga tidak berbau. Faktor-faktor ini membuat kentut lebih mungkin terdengar dibandingkan tercium.
Gangguan dan intoleransi juga mempengaruhi cara bakteri menghasilkan gas. Misalnya, pada orang yang tidak toleran terhadap laktosa, karbohidrat laktosa akan berpindah ke bakteri di usus besar, yang dapat menyebabkan kentut berbau atau tidak.
"Tidak ada satu ukuran yang cocok untuk semua dalam hal pola makan dan kentut, karena banyak sekali faktor dalam tubuh setiap orang. Di sisi lain, kentut bahkan yang bau sekalipun tidak bisa dihindari, dan kita bisa belajar memaafkan orang lain dan diri kita sendiri atas hal itu," pungkas Dr. Eric.
(Martin Bagya Kertiyasa)
Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.