Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

4 Masjid Tertua di Indonesia, Wisata Religi dan Saksi Sejarah Peradaban Islam di Nusantara

Novie Fauziah , Jurnalis-Kamis, 03 Agustus 2023 |11:00 WIB
4 Masjid Tertua di Indonesia, Wisata Religi dan Saksi Sejarah Peradaban Islam di Nusantara
Masjid Tuha Indrapuri di Aceh Besar (Foto: Okezone.com/Salman Mardira)
A
A
A

SEJAK abad ke-11 diperkirakan Islam mulai masuk Nusantara melalui jalur laut dari Sumatera hingga Jawa, seperti dikutip dari buku ‘Jejak Islam di Nusantara’ karya Adi Teruna Efendi. Islam masuk ke Nusantara dengan cara damai.

Sejarah Islam di Nusantara pun meninggalkan jejak, yakni dengan adanya bangunan-bangunan masjid. Di mana saat ini masjid bersejarah yang dimaksuf masih berdiri kokoh, dan sebagai tujuan destinasi wisata religi bagi para pelancong.

Nah, berikut ini empat masjid di Indonesia yang kaya akan sejarah peradaban Islam ketika masuk ke Nusantara. Bisa Anda jadikan tujuan wisata religi, seperti dihimpun dari berbagai sumber :

 BACA JUGA:

1. Masjid Saka Tunggal, Banyumas, Jawa Tengah (1288)

Pertama adalah Masjid Saka, lokasinya berada di Jawa Tengah, Desa Cikakak kecamatan Wangon, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah.

Keterangan atau sejarah lengkap mengenai berdirinya masjid tersebut, tertulis dalam buku-buku yang dibuat Kyai Mustolih yang juga pendiri masjid ini. Namun sayangnya buku ini sudah hilang.

 Ilustrasi

Masjid Saka Tunggal Banyumas

Disebut Saka Tunggal, karena awalnya tiang yang digunakan untuk membangun masjid ini memang hanya satu.

Pilar tunggal ini kabarnya melambangkan bahwa hanya ada satu Tuhan yaitu Allah SWT.

2. Masjid Wapauwe, Maluku Tengah (1414)

Berlokasi di Kaitetu, Leihitu, Kabupaten Maluku Tengah. Keberadaan Masjid Wapauwe merupakan bukti sejarah Islam di Maluku pada masa lampau. Menariknya, di masjid ini terdapat Mushaf Alquran yang disebut termasuk tertua di Indonesia.

 Ilustrasi

Masjid Wapauwe, Maluku Tengah

Al-Qur'an yang dimaksud adalah Mushaf Imam Muhammad Arikulapessy, selesai ditulis tangan pada 1550 tanpa hiasan pinggir, dan Mushaf Nur Cahya yang selesai ditulis pada 1590 dan juga tidak diberi hiasan pinggirannya layaknya Alquran pada umumnya.

Halaman:
      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita women lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement