BANYAK orang paham, sudah jadi risiko bagi seorang dokter forensik mendapati pengalaman mistis yang menakutkan di ruang jenazah. Begitu pun ketika harus melihat langsung pocong secara nyata yang bikin takut setengah mati!
Pengalaman itu terjadi dalam hidup Dokter Spesialis Forensik dan Medikolegal dr Stephanie Renni Anindita, SpFM. Beberapa tahun lalu, dia pernah bertemu langsung dengan pocong real saat melakukan otopsi di kamar jenazah.

Menurut penuturannya, kejadian ini pas sekali saat rumor tentang pocong berembus di masyarakat. Hantu pocong tengah meneror orang-orang dengan alasan ingin dibukakan tali kafannya supaya tenang di alam lain.
Rumor ini pun sampai ke telinga dr Stephanie dan hal itu sempat membuat beberapa mahasiswa koas-nya ketakutan. Ada satu mahasiswa yang fobia dengan pocong dan dengan adanya rumor itu, dia makin parno dan sangat takut dengan pocong.
Singkat cerita, rumah sakit tempat dr Stephanie berpraktik kedatangan kantong jenazah. Karena harus menyelesaikan laporan otopsi sebelumnya, Dokter Stephanie meminta tolong kepada si mahasiswa koas untuk melakukan pengecekan duluan.
Semua berjalan dengan baik, sampai akhirnya ada teriakan begitu kencang dari ruang jenazah. Panik, dr Stephanie kemudian bergegas meninggalkan ruangannya dan berlari menuju kamar jenazah.
"Otak saya bilang, mungkin saja ada mahasiswa yang luka kena alat," ungkapnya dikutip dari Channel Youtube Dokter Stephanie.
Tiba di sumber teriakan, dia melihat satu mahasiswa koas duduk di pojokan sambil menangis kencang. Dokter Stephanie pun bertanya ke mahasiswa koas lain apa yang sebenarnya terjadi dan kenapa ada mahasiswa yang nangis.
Dijelaskan oleh si mahasiswa koas kalau ada pocong di kantong jenazah yang baru tiba. Kaget mendengar pernyataan itu, dr Stephanie kemudian melihat isi kantong jenazah dan benar saja isinya pocong.
"Di dalam kantong itu isinya pocong. Jenazah yang kami terima dalam keadaan sudah dikafani dan tali pocongnya belum dilepas," katanya. Dan hal ini yang bikin si mahasiswa koas berteriak histeris.
Setelah itu, dr Stephanie kemudian berganti baju dan mulai melakukan otopsi terhadap pocong tersebut.
"Memang saat menjadi dokter, ada sebuah titik di mana kita harus mennghadapi ketakutan terbesar. Ya, dokter koas itu dipaksa menghadapi rasa takutnya terhadap pocong, karena memang itu sudah jadi profesi yang dipilih," ujarnya.
BACA JUGA:
Akhirnya si mahasiswa koas diminta istirahat dulu. Baru dipanggil masuk untuk ikut otopsi usai, pocong tadi dibuka kafannya.
BACA JUGA: