Logam mulia ini yang banyak ditemukan di Afrika Selatan dan Rusia. Rhodium dapat menjadi produk sampingan dari penyulingan bijih tembaga dan nikel yang mengandung hingga 0,1 persen logam mulia. Sekitar 16 ton rhodium diproduksi setiap tahun, dengan perkiraan cadangan 3.000 ton.
Rhodium ditemukan pada tahun 1803 oleh seorang ahli kimia Inggris, William Hyde Wollaston. Dia yang mengekstraksi unsur tersebut dari sepotong bijih platina dari Amerika Selatan.
Rhodium umumnya ditemukan bersama dengan endapan platina. Maka Wollaston menghilangkan platina dan paladium sehingga meninggalkan bubuk merah tua yang diolah dengan gas hidrogen untuk menghasilkan logam mulia rhodium.
Hal tersebut yang mendasari benda itu dinamakan rhodium, berasal dari bahasa Yunani “rhodon” yang berarti mawar. Namanya mengacu pada warna merah dari garam logam. Data statistik dari tahun 2019 menunjukkan hampir 90 persen permintaan rhodium berasal dari sektor auto-katalis dalam produksi konverter katalitik.
(Martin Bagya Kertiyasa)