Kebijakan mendatangkan orang-orang Tionghoa tersebut secara resmi dilakukan oleh Sultan Mahmud Badarudin I Jayo Wikramo tahun 1724-1757. Ia mendatangkan orang-orang Tionghoa atau China untuk dipekerjakan di parit-parit penambangan timah di Bangka.
Kebijakan mendatangkan orang Tionghoa kemudian terus berlanjut sampai penjajahan Inggris. Namun, Inggris mendatangkan orang Tionghoa langsung dari daratan China, yakni langsung dari Kanton, sementara Belanda sejak tahun 1816 mendatangkan orang-orang Tionghoa dari Provinsi Guangxi, China Selatan.
(Foto: Instagram/@alalenoh)
Umumnya ada dua suku besar yakni Khek atau Hakka dan Hokmian atau di Bangka biasa disebut Hoklo.
"Karena umumnya pekerja tambang yang datang yakni laki-laki, mereka menikah dengan perempuan pribumi di Bangka dan lahirlah peranakan-peranakan Bangka. Proses asimilasi dan akulturasi antara pribumi Bangka, orang Tionghoa dan melayu itulah yang membentuk orang Bangka sekarang," tuturnya.
(Rizka Diputra)
Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.