Generasi keluarga Lay selanjutnya yakni Lay Djit Siong. Ia sukses sebagai pemilik bioskop Surya melanjutkan bisnis keluarga dan ikut terlibat dalam pembangunan kota pada masa Pemerintah Hindia Belanda.
Hongky Lie beserta saudara-saudaranya merupakan generasi ke-lima dari keluarga Lay yang terus menjaga nilai-nilai dari rumah itu hingga saat ini di tengah gempuran modernisasi. Di Rumah Lay wisatawan dapat merasakan suasana tempo dulu yang sudah mulai sulit ditemukan.
Pengunjung seperti diajak kembali ke masa lalu lewat arsitektur rumah, perabotan, ornamen, foto-foto keluarga Lay Nam Sen hingga altar persembahyangan yang sangat mendukung suasana untuk bernostalgia.
(Foto: Instagram/@alalenoh)
Sementara itu, budayawan Bangka Belitung, Akhmad Elvian berpendapat, kedatangan orang Tionghoa ke Bangka di mulai pada tahun 1710 pada masa Sultan Muhammad Mansur Jayo ing Lago.
Sultan menandatangani kontrak perdagangan timah dengan kongsi dagang Belanda VOC yang mewajibkannya setiap tahun harus menjual timah seberat 30 ribu pikul.
Demi memenuhi kuota timah tersebut Sultan harus mencari tenaga-tenaga kerja penambang timah yang terampil. Kemudian, didatangkanlah orang-orang Tionghoa dari Semenanjung Malaka, Vietnam, Laos, Kamboja, Pattani, Johor, dan Siantan.