Muara Badak dalam Lontar Assalena
Dalam lontara Assalena Muara Badak dikisahkan Sultan Kutai, mengantar Muhammad Ismail yang disebut dengan Dato Ismail diizinkan menempati pintu gerbang di tepi utara muara anak Sungai Mahakam, yang berbatasan dengan Pulau Letung dengan lama perjalanan keliling selama 15 hari.
Dato Ismail mengunjungi tempat-tempat dari Muara Badak Ulu sampai ke Semberah. Atas saran Dato Ismail, Sultan menamai tempat-tempat permukiman yang dijumpainya antara lain Muara Badak, Saloapi, Saliki, Nilam, Salo Pareppa, dan Tanjung Limau.
(Foto: Pinterest/Jane Isyana)
Dato Ismail sempat diangkat menjadi sebagai Mangkau, atau Raja Bone ke-24 pada tahun 1812-1813. Namun setelah itu terjadi konflik dengan Inggris, yang menyebabkan keberadaan Bone di Muara Badak tidak diakui oleh Inggris.
Itulah sejarah singkat mengapa banyak orang Bugis bermukim di Muara Badak.
(Rizka Diputra)