SUNGGUH memprihatinkan, 17 anak jadi korban pelecehan 'mama muda' di Jambi. Oleh karena itu, dampak psikologis para korban perlu menjadi perhatian bersama.
Ya, anak-anak itu dikhawatirkan mengalami trauma yang berat akibat pelecehan seksual yang dilakukan NT, nama inisial pelaku. Untuk itu, peran psikolog anak diperlukan untuk menangani trauma yang mungkin muncul pada para korban itu.

"Dampak dari apa yang dialami para korban pelecehan di kasus ini banyak, salah satunya trauma," kata Psikolog Anak Karina Istifarisny saat dihubungi MNC Portal.
Bicara soal trauma, Karina menyarankan agar para orangtua atau wali korban untuk mewaspadai tanda-tanda trauma yang mungkin mungkin pada korban. Kemunculan tanda trauma pada anak-anak berbeda dengan orang dewasa.
"Misal ada trauma karena kecelakaan mobil. Pada anak-anak, semua mainan mobil ditabrak-tabrakin. Tapi, pada orang dewasa, mereka cenderung menghindari hal terkait trauma," jelas Karina.
"Nah, untuk bisa tahu suatu perilaku adalah trauma respons atau bukan, harus dilakukan pemeriksaan psikologis yang mendalam," kata Karina.
Kembali ke kejadian pelecehan seksual, menurut Karina, jika si anak yang merupakan korban sangat tertarik dengan seks, lalu melakukan permainan bertema seks yang tidak biasa, meminta orang lain menyentuh genitalnya, menyentuh genital orang lain, punya masalah dalam perilaku buang air, sulit tidur malam, ada kemungkinan si anak mengalami trauma.
"Kalau sudah begitu, coba bawa anak ke psikolog. Sebab, itu tanda kalau anak sedang butuh bantuan, karena pengalamannya mengajarkan sesuatu yang cukup besar, tapi kemampuan berpikir dan emosi anak belum mampu mengatasinya seperti orang dewasa," jelasnya.
"Ada juga anak yang mengalami pelecehan dan tidak menunjukkan respons trauma. Tapi sebaiknya tetap konsultasikan dengan psikolog," saran Karina.
Selain trauma, dampak yang mungkin muncul dalam diri korban adalah kecemasan, rasa takut, gangguan konsentrasi, nilai di sekolah turun, tidak bisa tidur, kepikiran terus akan pengalaman yang menimpanya, hingga bikin si anak jadi bandel.
"Sangat diharapkan bahwa lingkungan dari anak-anak yang menjadi korban pelecehan pada kasus ini cukup suportif untuk membantu para korban ini pulih dari pengalaman buruk tersebut," saran Karina.
BACA JUGA:Ayah Bunda Catat! Beri Edukasi Seks ke Anak, Beda Usia Beda Materi
"Saya juga meminta kepada orangtua korban untuk tidak menghakimi dan mencap bandel atau genit ke para korban. Ingat, korban pelecehan, khususnya anak-anak, tidak pernah mau mengalami hal tersebut," sambungnya.