Tahukah anda bahwa kondisi pengeroposan tulang atau osteoporosis adalah suatu penyakit yang dinilai bahkan lebih berbahaya daripada penyakit kanker. Dapat dialami tidak hanya pada orang dengan usia lanjut karena dapat juga dialami oleh berbagai usia baik wanita maupun pria. Osteoporosis dapat menurunkan kualitas kehidupan sehari-hari pada penderitanya. Kondisi osteoporosis sulit untuk dipulihkan. Selain itu osteoporosis juga dikatakan sebagai silent disease.
Ya, penyakit diam-diam, yang mana meski telah menahun dialami namun tidak terlalu dirasakan oleh penderitanya dan muncul tanpa gejala. Namun demikian, sejumlah tanda-tanda awal bahwa kita menderita osteoporosis bisa saja muncul. Berikut beberapa di antaranya, osteoporosis dapat mengakibatkan postur tubuh menjadi bungkuk atau semakin membungkuk, nyeri pada leher dan tulang punggung bawah, kemudian penurunan tinggi badan secara bertahap dan mudah sekali mengalami patah tulang.

Apa itu osteoporosis? Osteoporosis adalah penyakit yang ditandai berkurangnya massa tulang, sehingga menyebabkan kondisi tulang menjadi rapuh, keropos dan mudah patah. Massa tulang yang keropos disebabkan dari berbagai factor, antara lain faktor sejarah keluarga, reproduktif, gaya hidup, pemakaian obat, kondisi medis. Informasi kesehatannya adalah bahwa ketika kita masih diusia muda, dimana ketika masih dalam periode pembentukan tulang, kita masih dapat meningkatkan massa kepadatan tulang. Jadi masih dapat memperlambat proses terjadinya pengeroposan tulang serta meningkatkan kepadatan tulang apabila kita masih dalam masa pembentukan tulang, yaitu sebelum usia 30 tahun. Namun ketika kita sudah melewati usia ini maka tulang kita menurun kemampuannya dalam mempertahankan massa dalam pembentukan tulang.
Menurut penelitian bahwa 1 dari 3 wanita rentan terkena penyakit osteoporosis. Hal ini disebabkan adanya pengaruh hormon estrogen yang mulai menurun kadarnya dalam tubuh. Pada wanita sejak usia 35 tahun sedangkan pada pria hormon testoteron turun pada usia 65 tahun. Osteoporosis dapat menurunkan kualitas kesehatan pada penderitanya Untuk itu, jenis pengobatan yang bisa dilakukan pada kondisi osteoporosis lebih ke tujuan mencegah ketimbang mengobati. Dengan demikian hal berikut adalah salah satu upaya dalam pencegahan osteoporosis yaitu dengan selalu menjaga dan memantau berat badan ideal.
Berat badan adalah penentu utama massa tulang. Dalam hal ini, Indeks Massa Tubuh (IMT) berhubungan dengan kondisi osteoporosis. Pada orang kurus dengan nilai IMT <18, 5 memiliki risiko osteoporosis tujuh kali lebih besar dibandingkan dengan orang normal atau obesitas (IMT≥18,5). Status gizi underweight (kurus) menyebabkan terjadinya gangguan kepadatan mineral tulang sehingga lebih rentan terkena osteoporosis. Kondisi ini dapat terjadi karena rendahnya IMT berhubungan dengan rendahnya pencapaian massa tulang puncak dan tingginya massa tulang yang hilang. Melakukan 4 pilar gaya hidup sehat, mengatur pola makan sesuai anjuran bergizi seimbang, istirahat cukup, olahraga teratur dan mengelola stress adalah dalam rangka upaya menjaga dan mempertahankan berat badan ideal. Orang dengan kondisi status gizi kurus ataupun obesitas, sama-sama beresiko mengalami osteoporosis. Untuk itu pengaturan pola makan yang sesuai kebutuhan dengan memperhatikan zat gizi, beragam dan bervariasi dan mengacu pada kebutuhan sangat dianjurkan.
Meningkatkan asupan zat gizi protein adekuat, juga dianjurkan bagi orang yang rutin melakukan latihan kekuatan agar dapat mendukung pemulihan setelah berolahraga. Kebutuhan protein 1,2 gram per kilo gram berat badaan sampai dengan 2,2 gram per kilo gram berat badan.