Lokasi Kongres Pemuda Kedua
Karena digunakan sebagai gedung pertemuan, oleh karena itu pada 15 Agustus 1928, tempat ini diputuskan menjadi salah satu tempat penyelenggaraan Kongres Pemuda Kedua, Mencetuskan naskah Sumpah Pemuda, sekaligus pembacaan ikrar Sumpah Pemuda.
Rumah Tinggal
Setelah kongres kedua berakhir, banyak pelajar yang tinggal di sana sudah lulus dari pendidikan mereka, atau melanjutkan pendidikannya di tempat lain. Satu per satu pelajar meninggalkan tempat ini, sampai 1934 rumah ini disewa oleh Pang Tjem dan dijadikan tempat tinggal hingga tahun 1937.
Toko Bunga
Setelah rumah tinggal, ternyata rumah ini juga berevolusi menjadi toko bunga. Seorang etnis Tiongkok lainnya bernama Loh Jing Joe menyewa tempat ini untuk usaha toko bunganya. Ia mulai menyewa pada tahun 1937-1948.

Hotel Hersia
Sekitar tahun 1948 gedung itu sudah tidak lagi menjadi toko bunga. Kemudian gedung ini beralih fungsi menjadi sebuah Hotel bernama Hersia. Hotel ini bertahan mulai dari tahun 1948-1951.
Kantor Inspektorat Bea dan Cukai
Selanjutnya gedung ini juga pernah digunakan untuk kepentingan negara, yaitu menjadi kantor inspektorat Bea dan Cukai. Meski begitu, negara juga tetap menyewa tempat ini mulai dari tahun 1951-1970.
Museum dan Cagar Budaya
Akhirnya gedung bersejarah ini resmi menjadi Museum sekitar tahun 1973. Awalnya pada tahun 1968, Sunario mengumpulkan para pelaku sejarah Sumpah Pemuda, dan meminta Gubernur DKI untuk mengesahkan bangunan itu menjadi museuM. Usulan itu disetujui dan diresmikan oleh Gubernur DKI Jakarta waku itu, Ali Sadikin, Pada 20 Mei 1973. Pada tahun yang sama, gedung ini juga mengalami pemugaran.