Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Jejak Perabadan Melayu di Rumah Tua Desa Berakit dan Kisah Heroik Juragan Vs Perampok

Antara , Jurnalis-Kamis, 27 Oktober 2022 |01:20 WIB
Jejak Perabadan Melayu di Rumah Tua Desa Berakit dan Kisah Heroik Juragan Vs Perampok
Rumah Melayu di Desa Berakit, Bintan, Kepulauan Riau (ANTARA/Nikolas Panama)
A
A
A

Hasnawati pun jarang mengunjungi rumah yang dindingnya menggunakan papan terpasang vertikal. Orang Melayu menyebut rumah dengan dinding papan yang disusun vertikal itu sebagai "papan tindih kasih".

Orang-orang di Bintan menyebutnya rumah tua. Dan lantaran sudah semakin dikenal di berbagai kalangan, bahkan wisatawan, Ali mulai membuka rumah tinggalnya untuk para tamu. Mereka yang datang diperkenankan untuk masuk ke dalam rumah.

Pria itu mengaku tidak begitu paham tentang sejarah rumah berbentuk limas itu. Sejarah Rumah Tua itu lebih ditekuni Abdullah, paman dari Ali.

Abdullah juga sampai sekarang terus menggali jejak sejarah keluarganya yang membangun Desa Berakit, dimulai dari Rumah Tua itu.

Abdullah yang sehari-hari bekerja di Dinas Pariwisata Bintan mengatakan Rumah Tua itu dibangun oleh buyutnya bernama Haji Jalil. Haji Jalil sendiri merupakan keturunan etnis Tionghoa, yang merantau bersama tiga putranya, Haji Akob, Haji Muhammad Nuh dan Muhammad Ali ke Pulau Daik, Kabupaten Lingga, pada awal tahun 1900.

Dari Daik, ia bersama anak-anaknya mendayung sampan menuju Bintan untuk membuka usaha. Tahun 1908, Haji Jalil mulai menyicil mendirikan sebuah rumah panggung, tepatnya di utara Bintan, yang kini dikenal Desa Berakit.

Akob setelah dewasa menikah dengan Atut, yang dikaruniai empat anak, Hajah Kalsum, Haji Nikmat, Haji Usman, dan Muhamad. Kala itu usaha Akob yang diwarisi ayahnya berkembang pesat.

Akob menjadi juragan kopra, yang kaya raya. Kopra dari perkebunan Akob di Berakit dijual hingga ke Malaysia dan Singapura.

 Ilustrasi

Akob di usia sekitar setengah abad, tepatnya 1942, dibunuh oleh perampok. Akob dalam kisah heroiknya ditembak oleh perampok setelah berhasil menikam pimpinan dari tujuh orang perampok dengan kerisnya. Dalam perkelahian itu, Muhamad yang baru berusia 9 tahun juga dibunuh oleh perampok.

Keris dan dua tombak itu masih tersimpan di Rumah Tua, termasuk puluhan talam yang berbuat dari kuningan. Keris khas Melayu itu tidak dipajang, namun disimpan di salah satu ruangan.

Tombak sepanjang sekitar 2 meter juga terdapat ukiran yang unik, namun belum diketahui asal-muasal tombak dengan kepala berkarat tersebut.

Abdullah merupakan putra dari Haji Nikmat. Hajah Kalsum, kakak kandung dari Haji Nikmat, kemudian menikah dengan Haji Abdul Salam, yang merupakan batin (penghulu) pertama di Desa Berakit. Dari pernikahan Kalsum dan Abdul Salam lahir Hasnawati yang saat ini tinggal di Jakarta, Abdul Jalil (almarhum), dan Rahimah (ibu dari Ali Wardana).

Pewaris rumah itu adalah Hasnawati, karena dianggap lebih dekat dengan orang tua dan dapat menjaga rumah.

Halaman:
      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita women lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement