MASYARAKAT luas terutama para orang tua tengah harap-harap cemas, terkait masalah gangguan ginjal akut pada anak yang sampai ini dalang penyebabnya masih disebut misterius.
Meski, baru-baru ini Menteri Kesehatan RI, Budi Gunadi Sadikin menyatakan dalam pekan ini hasil investigasi penyebab gangguan ginjal akut akan diungkap kepada publik. Namun nyatanya, sampai detik ini diketahui hasil investigasi belum rampung.
Plt Direktur Jenderal Pelayanan Kesehatan Kementerian Kesehatan RI, Yanti Herman mengatakan pihaknya masih memerlukan waktu untuk menentukan apa penyebab dari tipe penyakit yang belum pernah terjadi seperti ini.
"Butuh waktu untuk bisa menilai etiologi atau penyebab suatu penyakit yang tidak pernah terjadi sebelumnya seperti gangguan ginjal akut ini,” terang Yanti Herman dalam konpres virtual, Jumat (14/10/2022).
“Kami masih melakukan investigasi," tambahnya.
Ini artinya, sampai sekarang hasil analisis metagenomik untuk gangguan ginjal akut ini belum selesai. Dengan begitu artinya penyebab penyakit masih misterius.
"Dengan kata lain, hingga sekarang kami belum mendapatkan konklusi dari pencarian penyebab gangguan ginjal akut. Data-data yang terkumpul juga belum mengarah pada satu kesimpulan yang sahih," kata Yanti lagi.
Seiring dengan hasil analisis metagenomic yang belum rampung, Kemenkes tetap melakukan upaya lanjutan untuk segera menemukan penyebab penyakit. Seperti, dengan memastikan bahwa tata laksana di rumah sakit harus komprehensif untuk mengerucutkan masalah hingga diketahui penyebabnya.
Sehingga, saat anak datang ke rumah sakit dengan kondisi sudah mengalami air seni yang sedikit atau tidak buang air kecil sama sekali, maka pasien akan menjalani pemeriksaan fungsi ginjal (ureum, kreatinin).
Kemudian, apabila hasil fungsi ginjal menunjukkan adanya peningkatan, dilakukan pemeriksaan lanjutan untuk menegakkan diagnosis, evaluasi kemungkinan etiologi dan komplikasinya.
Selain itu, dilakukan juga monitoring kondisi pasien meliputi volume balans cairan dan diuresis selama perawatan, kesadaran, napas Kusmaull, tekanan darah, serta pemeriksaan kreatinin serial per 12 jam.
Yanti melanjutkan, pasien akan dirujuk ke rumah sakit yang memiliki fasilitas dialisis anak bila didapatkan kriteria AKI mulai stadium 1 sesuai Kidney Disease Improving Global Outcomes (KDIGO).
Maka dari itu, pihak rumah sakit harus mempersiapkan sarana dan prasarana yaitu perlengkapan monitoring pasien serta ruangan intensif berupa HCU atau PICU sesuai indikasi.
"Kami meminta kepada rumah sakit untuk meningkatkan kewaspadaan dini dengan deteksi dini terhadap kasus anak yang mengalami gejala penurunan jumlah urin, dilanjutkan dengan menegakkan diagnosis serta melakukan pemeriksaan laboratorium," tegas Yanti.
Kemenkes memastikan bahwa perkembangan kasus gangguan ginjal akut ini akan terus di-update setiap harinya ke Badan Kesehatan Dunia (WHO). Selain itu, Kemenkes juga coba terus berdialog dengan para ahli untuk mencari tahu etiologi penyakit ini.
"Kami terus melakukan koordinasi dengan lembaga ahli, mau pun ahli yang mungkin bisa membantu menemukan penyebab penyakit misterius ini. Kita juga sudah melakukan penelusuran ke keluarga pasien, mencari tahu apakah ada hal yang bisa menjadi titik terang dari pencarian penyebab penyakit ini,” pungkas Yanti.
Tidak berhenti sampai situ, dilakukan juga tes Covid-19 dan pemeriksaan antibodi Covid-19 untuk mencari tahu apakah ada kaitannya penyakit misterius ini dengan Covid-19.
BACA JUGA:Waspada Gangguan Ginjal Akut, Kemenkes: Anak yang Air Seninya Sedikit Harus Dibawa ke RS
BACA JUGA:Investigasi Kasus Gagal Ginjal Akut Anak, Kemenkes Gandeng WHO
(Rizky Pradita Ananda)
Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.