Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Orang Tua Wajib Tahu! 5 Tips Kurangi Risiko Peluang Anak Tantrum

Kiki Oktaliani , Jurnalis-Kamis, 13 Oktober 2022 |09:45 WIB
Orang Tua Wajib Tahu! 5 Tips Kurangi Risiko Peluang Anak Tantrum
Ilustrasi, (Foto: Freepik)
A
A
A

SAAT anak tantrum, apalagi saat di muka umum, tak ayal membuat para orang tua kerepotan dan merasa panik.

Anak yang menangis, meronta-ronta, rewel, mengamuk bahkan berguling-guling di lantai memang membuat bingung sekaligus panik para orang tua.

Aksi yang dilakukan anak kecil, biasanya berusia 1 sampai 3 tahun ini diketahui merupakan bagian dari tantrum, yang bahkan pada beberapa kasus, anak-anak bisa bahkan menahan napas, muntah, memecahkan barang atau melukai diri sendiri atau orang lain sebagai bagian dari tantrum.

Lantas apakah sebetulnya ada cara yang bisa dilakukan orang tua untuk mengurangi kemungkinan terjadinya tantrum pada anak? Tenang, ternyata ada kok langkah-langkah yang bisa dilakukan ayah dan bunda untuk menekan risiko peluang terjadinya tantrum pada anak. Berikut ulasannya di bawah ini, sebagaimana dikutip dari Raising Children, Kamis (13/10/2022) .

1. Ajari paham emosi: Bantu anak untuk memahami emosinya. Anda dapat melakukan ini sejak lahir dengan menggunakan kata-kata untuk melabeli perasaan seperti 'senang', 'sedih', 'lelah', 'lapar' dan 'nyaman'.

2. Kenali pemicunya: Mengidentifikasi pemicu tantrum seperti kelelahan, kelaparan, kekhawatiran, ketakutan atau overstimulasi. Orang tua mungkin bisa merencanakan situasi ini dan menghindari pemicunya – misalnya, dengan pergi berbelanja setelah anak tidur siang atau makan sesuatu.

3. Diapresiasi: Ketika anak menangani situasi yang sulit tanpa mengamuk, dorong mereka untuk mendengarkan bagaimana rasanya. Misalnya, 'Saya baru saja melihat kamu membangun menara itu tanpa merasa sedih ketika jatuh. Bagaimana rasanya? Apakah Anda merasa kuat dan senang?’.

Halaman:
      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita women lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement