MASJID Jami Al-Riyadh di Kwitang, Senen, Jakarta Pusat merupakan masjid bersejarah. Pasalnya, masjid tersebut pernah menjadi tempat persembunyian Bung Karno saat diburu Belanda.
Masjid Jami Al-Riyadh Kwitang atau dikenal dengan nama Masjid Kwitang ini terletak di daerah Kwitang, Senen, Jakarta Pusat.
Penasaran dengan fakta Masjid Jami Al-Riyadh? Berikut Okezone rangkumkan 4 fakta masjid bersejarah sekaligus pusat dakwah Islam di wilayah Jakarta ini;
1. Tempat persembunyian Bung Karno
Masjid Kwitang ini sangat terkenal karena menyimpan banyak sejarah sebelum kemerdekaan Indonesia. Masjid ini pernah menjadi tempat sholat Soekarno bersama Habib Ali bin Abdurrahman Al-Habsyi. Bahkan disebutkan bahwa Bung Karno pernah bersembunyi di masjid ini ketika masa penjajahan Belanda.
Masjid ini sebenarnya pernah resmi diresmikan ulang oleh Bung Karno pada tahun 1963 lalu, dan diberi nama 'Baitul Ummah', namun kebiasaan yang sudah mengakar di masyarakat muslim di sana tidak menyebutkan Baitul Ummah, namun tetap menggunakan nama Masjid Jami’ Al-Riyadh.

2. Awalnya hanya surau
Masjid Jami’ Al-Riyadh Kwitang didirikan pada tahun 1938 Masehi oleh Habib Ali Al Habsyi dengan dibantu para santri dan penduduk setempat.
Awalnya, bangunan ini hanya berupa surau dengan desain rumah panggung, kini menjadi bangunan masjid dua lantai yang berdiri di atas lahan seluas 1.000 meter persegi.
Hingga pada tahun 1960-an, Habib Ali selalu membagikan ilmunya kepada para santri. Selain Masjid Kwitang, beliau juga membangun Islamic Center Indonesia (ICI).
Masjid Al-Riyadh hanya ada tiga di dunia. Pertama, ada di Hadhramaut, Yaman. Dua lagi ada di Indonesia yaitu di Kwitang, Jakarta Pusat dan di Kota Solo tepatnya di Pasar Kliwon.
(Foto: plongsite.wordpress.com)
3. Bangunannya megah
Bangunan Masjid Al-Riyadh Kwitang ini memiliki arsitektur yang megah. Dengan dominasi warna putih pada dindingnya dan sebuah menara besar yang dibangun di sisi kanan bagian depan masjid, menambah nilai estetika didalamnya.
Di depan gerbang utamanya terdapat bedug yang sudah berusia cukup lama, terlihat dari kulit dan kayu yang sudah menguning termakan oleh usia, namun masih dapat berfungsi dengan baik sebagai alat penanda waktu azan. Pada bagian dalam terdapat banyak sekali tiang-tiang penyangga atap yang berbentuk persegi.
Masjid ini memiliki dua lantai dengan fungsi yang berbeda satu sama lainnya. Pada lantai pertama biasa digunakan sehari-hari sebagai tempat sholat. Lalu pada lantai kedua digunakan sebagai tempat belajar atau madrasah. Kemegahan lainnya terpancar dari ukiran kayu yang terletak pada mimbarnya.