Kedua, miliaria rubra. Biang keringat jenis ini terjadi di lapisan tengah. Gejalanya adalah kulit berwarna kemerahan, gatal, melenting, berair, perih, dan parut. Bagian tubuh yang banyak mengeluarkan keringat kerap menjadi sasaran empuk miliaria rubra. Jenis biang keringat seperti inilah yang sering ditemui dan membutuhkan penanganan lebih lanjut. "Biasanya ini terjadi pada bayi. Dan bayi akan rewel dan terganggu tidurnya," kata dr Elandari.
Dan ketiga adalah liliaria profunda. Biang keringat jenis ini terdapat di lapisan lebih dalam, yaitu antara lapisan dermis dan epidermis. Gejalanya sendiri tidak merepotkan penderita karena hanya berupa bintik kecil berwarna putih, seperti jerawat batu.
Biang keringat, lanjut dr Elandari, dapat menyebabkan infeksi. Karena ada sumbatan, keringat tidak bisa keluar. Tapi karena dorongan dari dalam yang berlangsung terus-menerus, saluran keringat akan pecah, sehingga keringat masuk ke jaringan sekitarnya, sehingga timbullah peradangan. Rasa gatal dan pedih pada miliaria rubra itulah gejala awal terjadinya peradangan. Biasanya orang baru menyadari bahwa ia terkena biang keringat setelah terjadi peradangan.
Pengobatan yang paling efektif adalah mengurangi faktor penyebab produksi keringat yang berlebihan. Beberapa cara yang bisa dilakukan, antara lain, menaburkan bedak atau talk yang mengandung desinfektan atau pembunuh bakteri.