SEBAGIAN besar wilayah Indonesia sudah mulai memasuki musim kemarau. BMKG dalam rilis terbarunya menyebutkan, musim kemarau kini terjadi pada 69 persen dari 342 daerah zona musim atau ZOM di Indonesia.
Bukan hanya soal suhu yang menjadi tambah panas, musim kemarau yang panas ternyata juga bisa menyebabkan gangguan kecemasan pada seseorang.
Menurut psikoterapi. Dr. Crystal Burwell, kecemasan terjadi setiap kali ada transisi, apakah itu pergantian musim atau jenis perubahan lainnya, sebagaimana dikutip dari Huffington Post, Selasa (21/8/22).
“Ini sering disebut SAD (kesedihan) di musim panas. Apa yang terjadi adalah, terbuangnya ritrme sirkadian kita yakni siklus 24 jam yang membantu mengontrol saat kita tertidur dan ketika terbangun dari tidur," kata Dr. Burwell.
Terlebih, perubahan yang banyak yang terjadi ketika musim panas diketahui bisa menyebabkan kecemasan. Misalnya cuaca yang lebih hangat, harus mengenakan pakaian yang berbeda, dilema liburan musim panas, hingga hari yang terasa lebih panjang.
Saat musim dingin, terlalu sedikit sinar matahari menyebabkan masalah afektif musiman. Nah, ketika musim panas atau kemarau terlalu banyak sinar matahari, disebutkan juga menyebabkan masalah yang sama.
“Kita membutuhkan Vitamin D dari matahari, namun, ketika terlalu banyak sinar matahari, siklus tidur alami kita akan terganggu,” lanjut Dr. Burwell.