Di sisi lain, peneliti di Iran pernah melakukan studi soal pakaian bekas ini dan benar bahwa jamur yang ada di pakaian seken berbahaya bagi kesehatan.
Studi dilakukan pada 800 pakaian bekas, 400-nya adalah pakaian bebas yang dicuci, sisanya tidak dicuci. Pakaian bekas ini dikumpulkan dari 2018-2019 di Teheran, Iran.
Deteksi jamur dan parasit dilakukan dengan teknik pita transparan menggunakan pita transparan persegi panjang berukuran 2x6 cm. Sisi perekat ditempatkan di pakaian, lalu ditarik, dan dipisahkan. Pita perekat tersebut dibawa ke laboratorium untuk diperiksa.
Pengerjaan di laboratorium dikerjakan dengan pertama-tama perekat 'dibanjur' setets laktofenol untuk memisahkan parasit dengan perekatnya. Kemudian, cairan yang terkumpul diperiksa di bawah mikroskop cahaya dengan perbesaran 4 dan 10 X. Analisis statistik menggunakan SPSS 14. Uji Chi-square diterapkan untuk menentukan signifikansi asosiasi untuk prevalensi parasit.
"Dari 800 pakaian bekas tersebut, didapati 22 pakaian positif terkontaminasi parasit dan ektoparasit. Lebih lanjut, spesifik pada pakaian yang tidak dicuci didapati 10 baju mengandung Enterobius egg, 6 baju mengandung Pediculus spp egg, dan 6 baju lainnya mengandung Sarcoptes scabiei. Tidak ada parasit pada pakaian yang dicuci," terang laporan studi tersebut.
Apa bahayanya dari parasit-parasit tersebut?
Kalau Pediculus spp, parasit ini bisa menyebabkan demam hingga tipes. Lalu, kalau Sarcoptes scabiei menyebabkan rasa gatal dan lecet yang hebat, dan untuk Enterobius egg adalah masalah di kulit yang berarti.
"Kesimpulannya, kasus ditemukannya parasit berbahaya di baju bekas tidak dicuci cukup tinggi. Pakaian bekas secara umum dapat menularkan penyakit kulit dan rambut, khususnya pedikulosis dan kudis. Selain itu, penting untuk mencuci bersih pakaian bekas ini, disetrika, lalu didesinfeksi untuk mengurangi kemungkinan penularan patogen ke manusia," ungkap studi tersebut.
(Dyah Ratna Meta Novia)