GUNA mencegah stunting di Indonesia, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) akan melakukan tiga langkah intervensi. Ketiga intervensi ini, kata Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin akan dimulai pada wanita sebelum kehamilan.
Dimulai sejak usianya di atas kelas 7, hingga wanita mengandung atau hamil. Diketahui angka stunting di Indonesia saat ini sekitar 24%, kedepannya diusahakan turun menjadi 14%.

"Kita ditugaskan menurunkan angka stunting dari 24% ke 14% di tahun 2024 dan kita sudah belajar bahwa intervensi atau program yang harus kita lakukan untuk bisa menurunkan stunting, fokus diarahkan bagi wanita sebelum melahirkan,” kata Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin.
"Jadi intervensi akan fokus diarahkan pada wanita sebelum melahirkan, baik remaja di kelas 7 keatas dan juga pada saat ibunya hamil itu adalah titik yang paling rawan menyebabkan stunting,” sambungnya
Seperti pemberian tablet tambah darah (TTD) bagi para remaja putri. Di mana kegiatan dimulai dengan menggalakkan Aksi Bergizi di Sekolah dengan 3 paket intervensi yakni pemberian TTD mingguan bagi remaja putri, aktivitas fisik dan konsumsi makanan bergizi seimbang.
Lebih lanjut, sebagai intervensi kedua, dengan pemberian TTD, pemeriksaan kehamilan dan pemberian makanan tambahan pada ibu hamil. "Untuk remaja kita harus pastikan mereka tidak kekurangan gizi dan zat besi, jadi harus ada program untuk memastikan para remaja kita sebelum hamil tidak kekurangan zat besi. Salah satunya dengan pemberian TTD di sekolah-sekolah,” terang Menkes Budi.
"Gizi dan zat besi pada ibu hamil harus tercukupi. Programnya adalah kita kasih makan yang cukup, untuk melaksanakan ini kita butuh bantuan Pemda. Kita juga memberikan USG ke seluruh puskesmas, kita wajibkan ibu-ibu datang minimal 6 kali selama 9 bulan, untuk melihat perkembangan janinnya cukup atau tidak. kalau tidak kita bisa segera lakukan intervensi,” katanya.
Sementara upaya ketiga, dikatakan pemberian makanan tambahan berupa protein hewani pada anak usia 6-24 bulan. Menurutnya, protein hewani ini tidak perlu yang mahal, bisa didapatkan di sekitar kita.
Guna memastikan intervensi berjalan optimal, untuk remaja putri, pemberian TTD dilakukan dengan mengukur kadar hemoglobin dalam darah menggunakan alat HB meter. Alat cek HB ini telah tersedia dan siap didistribusikan ke seluruh puskesmas di Indonesia.
BACA JUGA:Hari Anak Nasional, Masih Stunting Masih Jadi Persoalan Utama
“Pemerintah pusat sudah membeli 10 ribu HB Meter mobile untuk seluruh puskesmas, yang bisa dibawa ke sekolah-sekolah untuk mengikuti apakah udah cukup zat besinya. Kalau belum berarti setiap hari harus minum TTD,” pungkasnya.
(Dyah Ratna Meta Novia)
Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.