Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Kisah Penyintas Covid-19: Sesak Napas Tidak Ada saat Bernyanyi

Dyah Ratna Meta Novia , Jurnalis-Jum'at, 22 Juli 2022 |12:27 WIB
Kisah Penyintas Covid-19: Sesak Napas Tidak Ada saat Bernyanyi
Lydia penyintas covid-19 (Foto: SCMP)
A
A
A

SETIAP pasien Covid-19 punya kisah sendiri dalam perjuangan hebat melawan penyakitnya. Ada yang mengatakan cukup istirahat, ada yang bilang perbanyak konsumsi makanan sehat, ada juga yang banyak tidur.

Seorang penyintas Covid-19, Lydia Zuraw mengaku lebih mudah bernapas dengan bernyanyi saat terkena Covid-19. Namun apa yang dialami Lydia tak bisa menjadi kebenaran secara medis, karena kembali, ini pengakuan secara subjektif pasien Covid-19.

 terinfeksi Covid-19

"Oktober lalu, sesak napas saya memburuk setelah berminggu-minggu jalani pengobatan. Sesak itu muncul saat saya berjalan atau beristirahat, berbaring atau duduk, bekerja atau nonton film, berbicara atau bahkan saat bermeditasi dalam diam," ceritanya yang dikutip dari South China Morning Post.

"Tapi, saat bernyanyi sesak napas itu tidak ada," lanjutnya.

Juni adalah masa di mana Lydia merasa amat tersiksa dengan infeksi Covid-19 dalam tubuhnya. Rasa tidak nyaman termasuk frustasi hinggap di dirinya berlarut-larut hingga tak terasa tubuhnya kekurangan oksigen dan itu yang membuat sesaknya memburuk.

Dia pun menjelaskan gejala Covid-19 yang dialami, yaitu sakit tenggorokan, sakit kepala, kelelahan, dan sesak napas. "Bahkan, gejala tersebut bertahan setahun kemudian," tambahnya.

Dan, Lydia menjelaskan bahwa musik benar-benar membantunya pulih dari kondisi tak nyaman tersebut. Sudah dekat dengan musik sejak usia 5 tahun membuatnya benar-benar merasa dekat dengan musik dan ternyata lewat musik jugalah dia merasa membaik dari infeksi Covid-19 tersebut.

"Saya mulai les biola itu saat usia 5 tahun, lalu beralih ke musik folk di usia 6 tahun. Saya juga aktif sebagai penyanyi paduan suara di usia 12 tahun. Saat pandemi, saya pun bergabung dengan paduan suara virtual lintas negara," ceritanya.

Salah satu kegiatan yang dilakukan paduan suara virtual itu adalah mempelajari lagu drama Yoruba dari Nigeria, lagu tradisional dari Sevdalinka di Bosnia dan Herzegovina, Appalachian standard, lagu rakyat dari Gilan, Iran, dan banyak lagi.

Nah, terkait lagu yang bisa membuat Lydia lebih lega saat bernapas adalah 'French Canadian drinking song'. "Saat saya menguasai lagu tersebut, saya merasa lega secara fisik maupun emosional. Saya selalu nyanyikan lagu itu saat saya sesak napas,' terangnya.

 BACA JUGA:Positif Covid-19, Joe Biden Minum Paxlovid

Diterangkan dalam laporan SCMP tersebut, jauh sebelum Covid-19 datang, terapi musik untuk penyembuhan penyakit pernapasan sudah cukup populer, khususnya untuk pasien penyakit paru obstruktif kronik (PPOK) dan asma.

Halaman:
      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita women lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement