KEMENTERIAN Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) menyusun pola perjalanan wisata ke warisan tambang batu bara Ombilin, Sawahlunto, Sumatera Barat, sebagai upaya memperkuat posisi objek wisata tersebut yang telah ditetapkan sebagai warisan dunia oleh UNESCO.
"Selama ini keberadaan warisan tambang batu bara Ombilin sudah dikenal luas, namun ada kelemahannya yaitu di lapangan belum terlalu siap sehingga perlu dibuat pola perjalanan wisata dalam bentuk story telling sebagai panduan wisata," kata Direktur Wisata Minat Khusus Kemenparekraf, Alexander Reyaan, melansir Antara.
Menurut dia, karena tambang batu bara Ombilin sudah masuk warisan dunia UNESCO, keberadaannya sudah dikenal luas oleh publik.
"Oleh sebab itu, perlu disusun pola perjalanan dan narasi yang kuat agar wisatawan akan mendapatkan gambaran utuh bagaimana sejarah tambang batu bara Ombilin di Sawahlunto," kata dia.
Pola perjalanan wisata itu meliputi tujuh kabupaten kota yaitu Kota Sawahlunto, Kota Padang, Kota Padang Panjang, Kota Solok, Kabupaten Solok, Kabupaten Tanah Datar, dan Padang Pariaman.

(Foto: Instagram/@dindafadfaj)
"Jadi pola ini menggambarkan cerita yang terkait satu sama lain tentang bagaimana dulu batu bara yang ditambang di Sawahlunto bisa sampai ke Pelabuhan Teluk Bayur Padang," ujarnya.
Ia melihat narasi yang ada selama ini belum terlalu kuat dan kurang tersusun secara rapi.
Ada sembilan tema besar pola perjalanan wisata tersebut yang dibuat dalam bahasa Inggris yaitu Expedition of The Black Gold, Mak Itam Odyssey, The Build a Better Mousetrap, Gangers, Fitters, and Powder Monkeys, The Growing Pains.
Kemudian, Tale of Our Red Dragon, Ombilins Heyday, The Time of Turbulence dan Journey de Ombilin.
Selain itu pihaknya juga berharap Pemprov Sumbar merampungkan SK pengelolaan warisan tambang batu bara Ombilin karena ini merupakan lintas kabupaten kota.