MENTERI Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Kepala Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf/Kabaparekraf), Sandiaga Salahuddin Uno mengajak pelaku pariwisata dan ekonomi kreatif untuk aktif berperan dalam penanganan sampah makanan (food loss and waste) pada sektor pariwisata dalam upaya mewujudkan pariwisata yang berkelanjutan.
Ia menegaskan, komitmen Kemenparekraf/ Baparekraf untuk berperan aktif dalam upaya mengatasi isu perubahan iklim.
Salah satunya dengan penyelenggaraan kegiatan FGD Pengelolaan Food Waste pada industri pariwisata, dilaksanakan dengan berlandaskan pada arahan Presiden Republik Indonesia pada KTT G20 di Roma, Italia.
Di mana Indonesia melalui G20 ingin menjadi contoh dalam mengatasi perubahan iklim, dan mengelola lingkungan secara berkelanjutan dengan tindakan nyata.
“Hari ini kita memulai suatu langkah baru secara betul-betul all out, kita totalitas untuk menangani pariwisata yang berkelanjutan. Kemenparekraf berupaya untuk mengatasi perubahan iklim yang berasal dari FLW dengan seluruh stakeholder industri pariwisata melalui inovasi, adaptasi, dan kolaborasi,” katanya saat menghadiri kegiatan Focus Group Discussion (FGD) 'Pengelolaan Food Waste pada Industri Pariwisata' di The Patra Bali Resort & Villas.
Sandiaga menjelaskan, berdasarkan data dari The Economist Intelligence, tercatat Indonesia merupakan salah satu negara penghasil sampah makanan terbesar di dunia, selain Arab Saudi, dan Amerika Serikat.
Catatan tersebut juga didukung dari hasil kajian Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas), dengan sejumlah lembaga mengenai hasil studi komprehensif terkait Food Loss and Waste (FLW) di Indonesia pada 2021.
Menurut kajian tersebut, kata dia, sampah makanan yang terbuang di Indonesia sejak 2000 hingga 2019 mencapai 23-48 juta ton per tahun, atau setara 115-184 kilogram per kapita per tahun. Besarnya intensitas makanan yang terbuang itu menjadi sampah, tentunya berdampak terhadap beberapa sektor seperti ekonomi, sosial, dan lingkungan.