Sebelumnya, Duta Besar Republik Indonesia untuk Swiss, Muliaman Hadad, mengatakan suhu air di Sungai Aare, Swiss, mencapai 16 derajat celsius dan arusnya cukup kuat saat Eril hilang di sana.
"Arus terutama memiliki efek mekanis pada tubuh di air. Tubuh itu sendiri mungkin terseret ke kejauhan, menciptakan tanda yang bisa disalahartikan sebagai cedera. Sisa-sisa atau pakaian juga dapat tersangkut di bebatuan, cabang, dan benda lain di dalam air, menciptakan tanda yang memerlukan interpretasi yang tepat," demikian seperti dilansir dari situs NCBI.
Arus kuat tidak hanya akan membawa jenazah hilang pada jarak sedang tapi juga bisa sangat jauh. Selain itu, ada benda lain di dalam air dapat tersangkut arus dan bersentuhan dengan jenazah dengan cara yang sama. "Di laut atau sungai yang mengalir deras, tubuh dapat membentur batu atau semak yang menyebabkan lecet dan luka postmortem," tambah keterangan tersebut.
"Suhu dan arus air akan mempengaruhi laju pendinginan suatu benda dalam lingkungan cair. Suhu inti tubuh pada saat pemulihan pun kurang membantu dalam menentukan interval postmortem ketika tubuh diangkat dari air," tulis NCBI.
(Martin Bagya Kertiyasa)
Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.