Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Hepatitis Misterius Disebut karena Vaksin Covid-19, Begini Komentar Ketua Satgas Covid-19

Muhammad Sukardi , Jurnalis-Selasa, 03 Mei 2022 |11:38 WIB
Hepatitis Misterius Disebut karena Vaksin Covid-19, Begini Komentar Ketua Satgas Covid-19
Ilustrasi Vaksin Covid-19. (Foto: Freepik)
A
A
A

SETELAH Covid-19 mulai berangsur membaik, tiba-tiba dunia dihadapkan dengan adanya penyakit hepatitis misterius. Penyakit ini pun sudah masuk dan menyerang beberapa anak di Indonesia.

Bahkan, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menemukan 3 anak meninggal karena penyakit ini. Penyakit hepatitis ini pun masih belum ditemukan penyebabnya, tidak heran ada beberapa argumen bermunculan, salah satunya vaksin Covid-19 penyebab hepatitis misterius tersebut.

Tapi, apakah vaksin Covid-19 menjadi biang keladi penyakit hepatitis misterius? Jika benar, bagaimana kaitan antara vaksin Covid-19 dengan munculnya penyakit serius tersebut?

Dijelaskan Profesor Zubairi Djoerban, anggapan bahwa vaksin Covid-19 menjadi penyebab hepatitis misterius tidak dapat dibuktikan dengan data. Artinya, pernyataan tersebut tidak bisa dianggap sebagai suatu kebenaran.

"(Hepatitis misterius) terkait dengan vaksin Covid-19? Hipotesis tersebut tidak didukung data," tegas Prof Zubairi yang merupakan Ketua Satgas Penanganan Covid-19 Ikatan Dokter Indonesia, di Twitter, dikutip MNC Portal, Selasa (3/5/2022).

Di kesempatan itu pun Prof Beri, sapaan akrabnya, memberikan klarifikasi bahwa sebagian besar anak-anak yang terkena hepatitis misterius itu justru belum menerima vaksinasi Covid-19.

Artinya, sangat kecil kemungkinan vaksin Covid-19 menyebabkan hepatitis misterius. Sebab, anak-anak yang teridentifikasi penyakit tersebut bahkan belum menerima vaksin Covid-19.

Hepatitis misterius punya gejala khas yang perlu masyarakat ketahui. Menurut Prof Beri, gejala dari hepatitis misterius ini antara lain pasien anak sebagian besar mengalami masalah gastrointestinal terlebih dahulu, diikuti penyakit kuning. "Tes laboratorium juga menunjukkan tanda-tanda peradangan hati parah. Sebagian besar anak tidak mengalami demam," papar Prof Beri.

Untuk mendiagnosis penyakit ini, kata Prof Beri, belum ada tes yang bisa memastikannya. "Tapi, syaratnya adalah pasien harus negatif terhadap virus hepatitis A, B, C, D, E, dan dengan kadar enzim transaminase lebih dari 500 unit per liter," tambahnya.

(Martin Bagya Kertiyasa)

Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita women lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement