Kedua, perlu upaya agar sumber daya dan kondisi lingkungan tetap terjaga, termasuk keanekaragaman hayati dan konservasi alam. Ketiga, aktivitas ekowisata perlu mendukung dan mempromosikan kelestarian alam dan lingkungan.
Keempat, perlu tindakan pencegahan untuk mengurangi efek negatif dari kegiatan ekowisata. Kelima, perlunya pemanfaatan teknologi ramah lingkungan dalam aktivitas ekowisata.
Keenam, segenap pihak perlu memiliki tanggung jawab bersama dalam mewujudkan ekowisata. Ketujuh, konsep dan kriteria ekowisata perlu didukung dengan pembelajaran dalam bidang wisata. Ketujuh prinsip ini menjadi penekanan oleh Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif.
Dari ketujuh prinsip ini, terdapat karakteristik destinasi wisata yang dapat dijadikan sebagai kawasan ekowisata. Di antaranya, suatu daerah dimanfaatkan sebagai taman nasional atau dirancang sebagai khusus wisata alam.

Taman Nasional Baluran, dijuluki Afrika kecil di ujung Timur Pulau Jawa layak menjadi ekowisata yang perlu dilestarikan. (Foto: Barry Kusuma)
Di Indonesia, ada sejumlah kawasan ekowisata sesuai kategori karakteristik daerah, antara lain Taman Nasional Gunung Leuser di wilayah Aceh dan Sumatra Utara, Taman Nasional Baluran di Jawa Timur, Taman Nasional Bunaken di Sulawesi Utara, Taman Nasional Bali Barat, dan Taman Nasional Komodo di Nusa Tenggara Timur.
Namun, tidak hanya dengan mengunjungi kawasan tersebut, kita juga bisa menerapkan prinsip ekowisata setiap kali berlibur. Cara-caranya pun sederhana. Misalnya dengan membiasakan diri mendaur-ulang barang yang digunakan saat liburan, menghemat air dan listrik, #BeliKreatifLokal yang ramah lingkungan, menghormati kearifan lokal, meminimalkan sampah, dan memberikan dampak positif pada lingkungan di sekitar destinasi wisata.

Kriya Kayu Rik Rok berbahan dasar limbah di Magelang, Jawa Tengah (Foto: Wonderfulimage.id/Azhari Setiawan)
Ekowisata juga bermanfaat untuk menyerap banyak tenaga kerja sehingga mendorong kebangkitan ekonomi dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Seperti hal yang disampaikan Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf), Sandiaga Uno saat menghadiri kegiatan Pariwisata Berkelanjutan Melalui Penanaman 40 ribu Mangrove untuk Penyerapan Emisi di Sofitel Hotel, Nusa Dua, Bali, Kamis (24/3/2022).
Pariwisata berkelanjutan merupakan salah satu fokus utama pemerintah untuk memastikan pengembangan pariwisata secara bertanggung jawab dengan tetap memperhatikan dan memelihara keberlangsungan ekosistem lingkungan.