KAWASAN Hutan Bowosie Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur (NTT) yang tengah dikembangkan menjadi ecotourism atau wisata alam berupa hutan oleh Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) dan Badan Pelaksana Otorita Labuan Bajo Flores (BPOLBF), kini malah dirusak.
Direktur Utama BPOPLBF Shana Fatina mengatakan, saay dipantau kawasan hutan tersebut, saat ini dalam kondisi cukup memprihatinkan. Sebagian besar telah dirusak oknum tidak bertanggung jawab.
Menurutnya, banyak titik lokasi yang ditebang, bahkan sebagian besar dibakar oleh oknum-oknum atau pihak yang tidak bertanggung jawab.
"Kami harus lakukan peremajaan agar hutan terlihat asri kembali. Karena wisata hutan daya tariknya tentunya pepohonan. Bagaimana wisatawan mau datang jika pohonnya ditebang dan dibakar," ujarnya dikutip dari keterangan resminya.

Lebih lanjut, kawasan hutan yang dirasak tidak hanya ditebang dan dibakar. Namun sebagian, lokasi sudah berubah menjadi lahan pertanian dengan jenis tanaman semusim yang rendah mengikat tanah dan air.
Shana menjelaskan, demi mengembalikan kondisi hutan Bowosie, pihaknya akan lebih banyak menanam daripada menebang, agar hutan kembali terlihat seperti semula mempunyai daya tarik.
Ia menambahkan, saat ini BPOLBF telah melakukan koordinasi dengan pihak terkait untuk menelusuri perusakan yang terjadi di hutan Bowosie yang akan dikelola BPOLBF.
Saat ini BPOLBF sedang melakukan pengembangan pariwisata di lahan seluas 400 ha di Hutan Bowosie. Pengembangan area itu untuk menghadirkan kawasan pariwisata berkelanjutan, berkualitas, dan terintegrasi di Labuan Bajo.
Kawasan dibagi dalam 4 zona meliputi zona cultural district, zona adventure district, zona wildlife district, dan zona leisure district.