Sementara itu, Ketua Perhati KL Jenny Bashiruddin mengatakan rendahnya pengetahuan masyarakat Indonesia perihal kesehatan telinga dan gangguan pendengaran berkaca pada hasil penelitiannya yang dilakukan secara daring.
Dari 2.410 orang yang dimintai keterangan didapatkan hasil bahwa 1.603 orang mengaku tidak mengetahui soal kesehatan telinga, 699 orang moderat, dan 108 orang mengetahuinya dengan baik. Menurut dia, angka itu menjadi gambaran betapa belum pedulinya mayoritas masyarakat akan kesehatan telinga. "Ternyata pengetahuan masyarakat masih kurang terhadap gangguan pendengaran, kita agak kaget saat melakukan survei dengan responden," kata dia.
Menurutnya, setiap orang dari berbagai tingkatan usia berpeluang mengidap gangguan pendengaran yang disebabkan berbagai faktor. Masalah yang kerap dihadapi seperti infeksi telinga luar, tengah, dan dalam, komplikasi telinga, gangguan pendengaran kongenital, gangguan pendengaran pada usia lanjut, tuli mendadak, dan kotoran yang menyumbat
"Nah masalahnya infeksi telinga merupakan proses kronik sehingga pasien perlu kontrol secara berkala. Karena khawatir apabila tidak di kontrol dia akan menjadi kronik dan mesti dioperasi apabila sudah parah," kata dia.
Maka dari itu, ia mengingatkan serta mengajak masyarakat yang dirasa pendengarannya terganggu untuk segera berkonsultasi dengan layanan kesehatan. Jika dibiarkan berlarut-larut maka khawatir berdampak fatal untuk ke depannya. "Kebanyakan dari kita membiarkan seolah tidak terjadi apa-apa, tetapi akhirnya bisa fatal," kata dia.
(Martin Bagya Kertiyasa)
Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.