Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Kisah Haru Penyintas Covid-19, Dukungan Keluarga Bikin Rilsan Punya Semangat Hidup

Antara , Jurnalis-Rabu, 23 Februari 2022 |11:27 WIB
Kisah Haru Penyintas Covid-19, Dukungan Keluarga Bikin Rilsan Punya Semangat Hidup
Pasien Covid-19 dirawat di rumah sakit (Foto: Reuters)
A
A
A

MESKI saat ini sudah ada beberapa obat yang digunakan sebagai alternatif untuk mengobati pasien Covid-19, namun hingga kini belum ada obat yang dipatenkan untuk benar-benar menyembuhkan virus corona tersebut.

Satu-satunya faktor yang mendorong kesembuhan seseorang dari virus mematikan tersebut adalah sistem kekebalan tubuh manusia itu sendiri.

 pasien Covid-19

Di balik kesembuhan para pasien Covid-19, selain pengobatan dan perawatan terbaik yang diberikan oleh para tenaga medis, sistem kekebalan tubuh, menurut sejumlah ahli, menjadi faktor kunci yang membebaskan seseorang dari belenggu ketidakberdayaan akibat paparan virus SARS-CoV-2.

Meski pada sebagian kasus, seseorang yang terpapar Covid-19 tidak menunjukkan gejala dan hanya mengalami sakit ringan, namun pada sebagian lain, virus tersebut dapat menimbulkan gejala yang cukup berat, seperti yang dialami oleh Rico J Sihombing.

Pria berusia 54 tahun itu awalnya didiagnosis menderita demam berdarah. Namun, sepulang dari rumah sakit untuk pengobatan penyakit tersebut, Rico mendadak mengalami batuk hebat.

Setiap tarikan napas yang dia usahakan untuk memompa paru-paru dengan oksigen, ada desakan yang ia rasa semakin menghimpit rongga dadanya hingga terasa semakin sesak.

Semakin dalam ia bernapas, semakin sulit baginya untuk keluar dari himpitan yang dirasa semakin kuat.

Ia tak mengerti dengan keadaan yang sedang ia alami. Ia pun tak mengerti dengan keberadaan makhluk asing yang ia rasa semakin membanjiri paru-parunya.

Ia mengaku dirinya sebagai perokok. Namun, ia merasa batuk yang ia alami bukan akibat rokok. Meski menurut faktanya rokok dapat memperparah dampak yang ditimbulkan akibat paparan Covid-19.

"Saya kan perokok. Tapi kali ini saya merasa batuknya lain," katanya.

Selain sesak napas, ia juga mengalami demam panas hingga mencapai 39,3 derajat Celsius. Demam tersebut terus menerus naik turun, bahkan sampai setelah dia dirawat di rumah sakit.

Selain itu, ia juga menderita pegal-pegal yang luar biasa hebat. "Sampai pinggang itu rasanya mau patah," ujarnya.

Dengan bantuan istrinya, akhirnya dia dirawat kembali di rumah sakit karena gejala yang tak kunjung mereda.

"Di sana saya difoto toraks, kemudian dikonsultasikan ke dokter spesialis paru. Dokter spesialis paru melihat di paru-paru saya itu kayak berkabut, penuh ada bercak, ada peradangan, suspectnya pneumonia," katanya.

"Kemudian, datang dari dinas kesehatan untuk swab cairan dari hidung dan tenggorokan. Dua hari setelah itu, datang hasilnya, saya dinyatakan positif COVID-19. Lalu saya dijemput ambulans dan dipindahkan ke rumah sakit rujukan Covid-19," katanya lebih lanjut.

Selain Rico, petaka juga dialami Rilsan Malkhi. Pria berusia 26 tahun itu tak menyangka tubuhnya dibuat tak berdaya akibat paparan Covid-19.

Tidak hanya mengalami demam hingga mencapai 39,2 derajat Celsius, Rilsan pun mengalami batuk-batuk, diare, kehilangan indra perasa dan penciuman hingga sesak napas yang awalnya dia bantah dan baru dia sadari saat dirinya telah terbaring di ruang CICU (Cerebro Intensive Care Unit). Satu ruangan yang katanya dikhususkan bagi pasien Covid-19 dengan gejala paling kritis.

 BACA JUGA:Penyintas Covid-19 Sering Merasa Kelelahan, Begini Cara Mengatasinya

"Jadi gejalanya kalau dibilang sama dokter itu saya gejalanya paling lengkap. Dari semua jurnal yang ada, saya yang paling lengkap gejalanya," tutur Rilsan.

Halaman:
      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita women lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement