Dukungan keluarga
Meski pengobatan dan perawatan dari tenaga medis diakui Rico sangat membantu pemulihannya, tetapi dukungan semangat dari istri dan anaknya juga menjadi faktor penting lain yang turut mendorong kesembuhannya.
Tidak bisa dipungkiri, banyak pakar pun mengakui bahwa semangat hidup yang direfleksikan dengan selalu berpikir positif, tidak panik dan cemas dapat meningkatkan sistem kekebalan tubuh yang menjadi kunci utama pemulihan dari penyakit Covid-19.
"Jadi mesti punya semangat hidup," ujarnya.
Untuk menyemangati diri, ia kerap berkomunikasi dengan keluarganya untuk bertanya kabar dan berbagi cerita selama dalam perawatan.
Selain itu, Rico juga mengupayakan segala upaya untuk memulihkan diri dengan memakan makanan apapun yang disediakan rumah sakit, minum banyak air mineral dan berolahraga ringan di dalam ruang perawatannya.
"Yang penting tetap semangat. Mau joget-joget di ruangan silakan saja. Mau senang-senang enggak ada masalah. Yang penting hati senang. Makanan di rumah sakit itu dimakan saja. Enak enggak enak disikat saja. Lalu banyak minum juga. Waktu di dalam (ruang perawatan) itu saya habiskan minuman bisa dua liter lebih," katanya.
Kemudian, selain dukungan keluarga yang mendorong semangatnya untuk sembuh, keyakinan bahwa ada campur tangan Tuhan Yang Maha Kuasa dalam setiap kejadian juga memberinya semangat bahwa Tuhan akan menolongnya.
"Karena kita orang beragama, kita mesti percaya bahwa Tuhan turut memelihara kita. Saya percaya campur tangan Tuhan berjalan dalam hidup kita," tuturnya.
Demikian halnya dengan keyakinan yang dimiliki Rilsan. Ia yakin Tuhan akan memberikan pertolongan sehingga badai yang dihadapinya pasti akan berlalu. Usia muda tanpa penyakit penyerta tak menutup kemungkinannya terpapar Covid-19 dengan gejala cukup berat.
Meski demikian, ia tetap semangat sembuh berkat dukungan keluarga dan para tenaga medis yang merawatnya. Dukungan itu memberinya keyakinan bahwa dirinya mampu melawan penyakit yang telah mendera lebih dari dua juta orang di seluruh dunia.
Dukungan semangat itu ingin juga ia tularkan kepada pasien lain yang menurutnya belum mendapat kesempatan yang sama, sekembalinya dari rumah sakit.
"Karena saya meyakini kemampuan mental orang-orang beda-beda dalam menghadapi masalah. Dan (semangat) yang saya yakini ini sulit diterapkan kepada beberapa orangtua di CICU yang kondisinya kritis," katanya.
Di antara pasien-pasien tersebut, ia mengaku hanya dirinya yang memiliki kesempatan untuk berkomunikasi dengan keluarganya di rumah dengan telepon genggam yang dibawanya.
Sadar bahwa dukungan keluarga dapat mendorong semangatnya untuk sembuh, ia menyadari bahwa pasien-pasien lain yang berusia lanjut dan tidak berkesempatan untuk berkomunikasi dengan keluarga juga perlu mendapat dukungan semangat.
"Kalau saya untungnya masih bisa ngomong sama teman ke sana ke sini (dengan menggunakan telepon genggam). Tapi kalau mereka saya lihat ada yang bisa dan ada yang enggak bisa. Ada yang diam dan terlihat semakin sedih," katanya.
Hal tersebut menginspirasinya untuk berencana menyediakan bantuan teknis yang akan memungkinkan pasien, yang tidak berkesempatan berkomunikasi, untuk bertatap muka dan berkomunikasi dengan keluarga mereka sehingga memacu semangat hidup mereka.
"Harapan saya (melalui rencana bantuan tersebut) adalah untuk membantu pasien-pasien Covid-19, khususnya untuk pasien yang sudah tua dan lansia. Mereka enggak bisa nikmatin suka cita sama sekali di ICU (karena keterbatasan alat komunikasi)," katanya.
Oleh karena itu, ia bersama dengan teman-temannya berencana menyediakan alat komunikasi berupa tablet sejumlah pasien yang ada di ICU agar mereka bisa berkomunikasi dan berbagi suka cita dengan keluarga mereka di rumah.
Rilsan dan teman-temannya juga tengah membuat konten siraman rohani yang dapat memberikan pencerahan bagi para pasien.
(Dyah Ratna Meta Novia)