Kerumunannya besar, dan butuh waktu lama sebelum semua orang menyeberangi ngarai. Tidak ada bahan, peralatan, atau mesin modern yang digunakan selama seluruh proses rekonstruksi jembatan, hanya tali dari rumput dan tenaga manusia.
Ritual pembangunan kembali tahunan berakhir dengan perayaan di mana semua penduduk berpartisipasi. Sebuah panggung telah disiapkan dan sebuah grup musik memainkan lagu-lagu tradisional dari daerah tersebut.
Anak-anak sekolah dari desa tetangga ikut serta dalam kompetisi menari. Dalam beberapa tahun, anak laki-laki dan perempuan inilah yang akan mengambil alih, untuk membangun kembali jembatan gantung Q'eswachaka.
(Rizka Diputra)
Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.