Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Membandingkan Vaksin Pfizer Vs Moderna, Siapa Lebih Unggul?

Pradita Ananda , Jurnalis-Jum'at, 14 Januari 2022 |15:05 WIB
Membandingkan Vaksin Pfizer Vs Moderna, Siapa Lebih Unggul?
Ilustrasi Vaksin Covid-19. (Foto: Freepik)
A
A
A

VAKSIN Pfizer dan Moderna adalah dua vaksin yang mengadopsi teknologi Messenger RNA atau disebut mRNA. Lewat teknologi ini, vaksin Covid-19 ini akan direkayasa secara genetik untuk memberikan instruksi kepada sel Anda tentang cara membuat protein S yang ditemukan di permukaan virus Covid-19.

Usai vaksinasi, sel kekebalan Anda mulai membuat potongan protein S dan menampilkannya di permukaan sel. Ini menyebabkan tubuh Anda membuat antibodi. Jika nanti Anda terinfeksi virus Covid-19, antibodi ini akan melawan virus tersebut.

Setelah memberikan instruksi, mRNA segera dipecah, dan tidak pernah memasuki inti sel Anda, di mana DNA Anda disimpan. Baik vaksin Pfizer-BioNTech dan Moderna pun menggunakan teknologi mRNA ini. Tapi apa yang berbeda dari keduanya? Melansir yalemedicine berikut paparannya.

Pfizer-BioNTech

Pfizer-BioNTech adalah vaksin Covid-19 pertama yang menerima persetujuan penuh dari Food and Drug Administration (FDA) untuk orang berusia 16 tahun ke atas pada Agustus 2021. Ini adalah vaksin messenger RNA (mRNA) yang menggunakan teknologi yang relatif baru. Pfizer harus disimpan dalam suhu dingin di freezer, yang dapat membuatnya lebih sulit untuk didistribusikan.

Direkomendasikan untuk:

Anak-anak dan orang dewasa berusia 5 tahun ke atas yang memenuhi syarat untuk mendapatkan vaksin. Siapapun yang berusia 5 tahun ke atas yang mengalami autoimun sedang atau berat, disarankan untuk mendapatkan dosis ketiga Pfizer-BioNTech atau Moderna.

Dosis

Dua suntikan, diberikan dalam 21 hari terpisah. Dosis booster hanya 1 suntikan, dapat diberikan kepada mereka yang memenuhi syarat setidaknya 5 bulan setelah menyelesaikan 2 dosis awal. Karena Pfizer-BioNTech mengatakan datanya menunjukkan dosis yang lebih kecil menghasilkan respons imun yang kuat pada anak-anak, dua dosis 10 mikrogram untuk anak usia 5-11 lebih kecil daripada dua dosis 30 mikrogram yang diberikan kepada remaja dan orang dewasa.

Efek samping

Nyeri, kemerahan, bengkak di tempat suntikan, menggigil, demam, sakit kepala, nyeri otot, mual, kelelahan di seluruh tubuh. Efek samping ini umumnya hilang dalam satu atau dua hari. Tapi jika gejala tidak hilang dalam 72 jam, atau jika Anda memiliki gejala pernapasan, seperti batuk atau sesak napas, hubungi dokter.

Vaksin juga memiliki kemungkinan sangat kecil untuk memicu anafilaksis, reaksi parah yang dapat diobati dengan epinefrin. Untuk alasan itu, CDC mewajibkan orang yang mendapatkan vaksin dipantau selama 15 menit, atau 30 menit jika memiliki riwayat alergi parah.

Peringatan FDA

FDA menempatkan label peringatan pada vaksin Pfizer terkait kasus peradangan jantung yang dilaporkan pada orang dewasa muda. Peradangan ini dapat terjadi di otot jantung (miokarditis) atau di lapisan luar jantung (perikarditis), tapi sangat jarang terjadi, hanya muncul 1 dari 12,6 juta dosis yang diberikan.

Efektifias

Para ahli terus mempelajari tentang kemanjuran Pfizer, data klinis Fase 3 awal Pfizer menunjukkan vaksinnya memiliki kemanjuran 95%. Studi lain, menunjukkan angka efikasi menjadi 84% setelah 6 bulan, meskipun kemanjuran terhadap penyakit parah adalah 97%.

Pada bulan Agustus, CDC juga menerbitkan penelitian yang menunjukkan perlindungan vaksin mRNA terhadap infeksi mungkin berkurang, meskipun vaksin masih sangat efektif melawan rawat inap. Dalam satu studi CDC, data dari negara bagian New York menunjukkan efektivitas vaksin turun dari 91,8% menjadi 75%.

Efektivitas lawan mutasi

Sejumlah penelitian telah difokuskan pada vaksin dan mutasinya. Pada awal Mei, vaksin Pfizer mencatatkan 95% efektif melawan penyakit parah atau kematian dari varian Alpha (pertama kali terdeteksi di Inggris) dan varian Beta (pertama kali diidentifikasi di Afrika Selatan).

Sementara untuk varian Delta, dua penelitian yang dilaporkan oleh Public Health England adalah 88% efektif terhadap penyakit simtomatik dan 96% efektif terhadap rawat inap. Tapi, para ilmuwan masih mempelajari seberapa efektif vaksin tersebut terhadap Omicron.

Halaman:
      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita women lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement