Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Melihat dari Dekat Museum Nyah Lasem, Potret Rumah Gaya 'Gladhak' Jawa

Antara , Jurnalis-Senin, 06 Desember 2021 |02:04 WIB
Melihat dari Dekat Museum Nyah Lasem, Potret Rumah Gaya 'Gladhak' Jawa
Museum Nyah lasem (Foto: Antara)
A
A
A

WILAYAH Kecamatan Lasem, yang dijuluki Tiongkok Kecil, berada sekitar 12 kilometer di timur Ibu Kota Kabupaten Rembang di Provinsi Jawa Tengah.

Di daerah yang disebut sebagai tempat awal pendaratan orang Tionghoa di Pulau Jawa itu banyak perkampungan dengan bangunan rumah kuno.

Bangunan-bangunan kuno di antaranya bisa ditemui saat menyusuri perkampungan di Desa Karangturi, tempat rumah-rumah dengan tembok tinggi bergaya Tiongkok masih berdiri kokoh.

Di Gang Karangturi V, Desa Karangturi, ada satu rumah yang menarik perhatian. Bangunan rumah kuno peninggalan keluarga Tionghoa dengan tembok bercat warna putih itu memiliki satu pintu kecil di bagian tengah dan satu gerbang di bagian kiri.

Di balik pintu kecil yang ada di rumah kuno yang kini dijadikan sebagai Museum Nyah Lasem itu ada halaman tidak terlampau luas yang ditumbuhi pepohonan rindang. Di seberang halaman itu berdiri sebuah bangunan dengan beranda pada bagian depan, beranda yang memiliki struktur kuda-kuda kayu khas Tiongkok berwarna hijau.

Bangunan utama rumah itu terbuat dari kayu, masih kokoh meski sudah tua. Pintunya besar.

Di bangunan utama rumah terdapat ruangan dengan deretan foto-foto yang diperkirakan digunakan sebagai ruang tamu pada masa lalu.

Baca juga: Mengintip Benda-Benda Bersejarah di Museum Sumpah Pemuda, Apa Saja?

Museum Nyah Lasem

(Museum Nyah Lasem, Foto: Antara)

Di sisi kanan dan kiri ruang depan tersebut masing-masing ada kamar dengan ukuran yang sama, dan di bagian belakangnya ada satu ruang dengan desain memanjang. Beranda yang tidak terlalu luas ada di bagian belakang bangunan utama.

Pendiri Yayasan Lasem Heritage Baskoro Pop menjelaskan bahwa bangunan yang dijadikan sebagai Museum Nyah Lasem merupakan rumah "gladhak" Jawa.

"Konstruksi rumah kayu atau yang lebih dikenal dengan rumah 'gladhak' Jawa," kata Baskoro saat memandu pengunjung museum.

Menurut dia, rumah "gladhak" berbeda dengan desain rumah peninggalan Tionghoa yang dinding serta lantai bangunan utamanya pada umumnya terbuat dari batu.

Baskoro menjelaskan pula bahwa rumah "gladhak" yang dijadikan sebagai Museum Nyah Lasem merupakan rumah milik Soe San Tio.

Halaman:
      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita women lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement