INTERNET memang menyediakan banyak informasi yang kita butuhkan, tapi sayangnya banyak informasi yang beredar kurang lengkap atau mungkin kurang tepat. Bahkan, di bidang kesehatan sendiri banyak informasi yang masih teruji kebenarannya.
Sebut saja informasi terkait deteksi dini stoke, kanker, diabetes maupun kesehatan mental. Padahal mendiagnosis kesehatan mental tidak semudah mengklik-klik di internet.
Psikolog Klinis Widya S. Sari, M.Psi. mengatakan proses diagnosis atas permasalahan mental yang dialami seorang pasien atau klien bukanlah sesuatu yang bisa didapatkan secara instan dan langsung.
“Akan ada beberapa proses dan tahapan, bahkan hingga beberapa kali pertemuan sampai kami menemukan kondisi yang sebenarnya apa,” kata Widya seperti dilansir dari Antara.

Ia mengingatkan jika ingin mendapatkan diagnosis yang lebih akurat dan lengkap, klien perlu melakukan multi-approach atau berbagai pendekatan, tidak hanya dari psikolog dan psikiater tetapi juga bisa dokter yang cukup peka dengan permasalahan spesifik tertentu.
Senada dengan hal tersebut pendiri Klub “Mental Health Indonesia” di Clubhouse, Detty Wulandari, berpendapat menemukan konselor, psikolog, atau psikiater yang tepat memang diperlukan proses yang tidak hanya dilakukan sekali atau dua kali pertemuan. “Menemukan konselor, psikolog, atau psikiater yang tepat buat kita itu seperti mencari pacar atau mencari jodoh. Cocok-cocokan memang,” ujarnya.
Detty juga menekankan ketika klien tidak merasa cocok berkonsultasi dengan seorang profesional, maka ia memiliki hak untuk mencari pendapat dari profesional lain sampai menemukan yang lebih cocok.
“Karena yang terpenting untuk seorang profesional bisa membantu kita itu adalah kita bisa jujur terhadap apapun masalah-masalah kita atau apapun gejala-gejala yang mungkin kita alami,” katanya.