PEMERINTAH Kabupaten Tulungagung menggelar tradisi jamasan tombak pusaka Kiai Upas yang merupakan senjata legendaris, sekaligus ikon sejarah perjalanan pemerintahan daerah di pesisir selatan Jawa Timur bagian barat tersebut.
Gelaran ritual yang masih kental adat Hindu Jawa itu diselipi dengan spiritualitas bernuansa Islam, agama mayoritas di wilayah itu.
Hal ini tersirat dari adanya pembacaan ayat suci Al Quran yang diiringi gamelan Jawa yang terus mengalun sepanjang prosesi jamasan.
Baca juga: Tradisi Warga Lereng Merapi Rayakan Lebaran Ketupat dengan Mengarak Sapi
Bagi warga Tulungagung, khususnya di lingkungan Kepatihan, jamasan tombak Kiai Upas sudah ada sejak lama dan digelar pada Jumat di pekan kedua.
Bupati Tulungagung Maryoto Birowo tampak hadir dalam ritual adat Jamasan pada Jumat kemarin tersebut. Ia bahkan ikut "menggendong" (membawa) tombak pusaka Kiai Upas yang dikeramatkan tersebut.
"Ritual ini sudah dilakoni masyarakat sini sejak dulu ketika Bupati Tulungagung awal, Raden Mas Pringgokusumo membawa pusaka Kanjeng Kyai Upas ke Tulungagung,” ujar Maryoto.
Baca juga: 15 Tempat Wisata di Sumenep, dari Pulau Mini hingga Air Terjun Cantik
Maryoto melanjutkan, keberadaan pusaka ini memperkuat spirit dan mental masyarakat Tulungagung pada masa itu.
Pelaksanaan jamasan biasanya menjadi daya tarik bagi masyarakat yang penasaran, sehingga menimbulkan kerumunan.