Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Waspadai Long Covid-19, Tubuh Belum Fit meski Sudah Sembuh

Agregasi VOA , Jurnalis-Senin, 26 Juli 2021 |07:23 WIB
Waspadai Long Covid-19, Tubuh Belum Fit meski Sudah Sembuh
Ilustrasi mengalami gejala long covid-19. (Foto: Stockking/Freepik)
A
A
A

SEBAGIAN besar pasien yang terinfeksi covid-19 bisa sembuh setelah perawatan selama dua pekan. Tapi ternyata ada sebagian pasien yang mengalami gejala lebih lama (long-covid-19), atau bahkan bisa berdampak pada organ tubuh secara luas.

Trisno, warga Yogyakarta, sudah selesai isolasi mandiri pada 22 Juni lalu. Namun dia bercerita, kondisinya tidak langsung kembali seperti sedia kala. Dini hari, dia sering terbangun karena merasa sesak.

“Sekitar dua minggu lalu saya merasa panas dan pegal, juga mual-mual sampai dua hari dan kondisi drop. Saya minum obat, rasanya lumayan tetapi tetap enggak bisa langsung fit rasanya. Kalau jalan masih sempoyongan. Sekarang sudah baikan. Tapi ini kan berarti saya pulihnya lebih dari sebulan," kata Trisno, seperti dikutip dari VOA, Senin (26/7/2021).

Pasien yang sembuh lebih lama dari waktu perawatan standar, seperti Trisno, disebut sebagai long COVID. Organisasi Kesehatan Dunia (World Health Organization/WHO) mulai menyebut munculnya kondisi ini sekitar bulan September 2021.

Baca juga: Manfaat Rutin Minum Air Hangat, Cegah Pilek hingga Lancarkan Pencernaan 

Makin Berat, Makin Besar Peluang

Dokter spesialis paru di Rumah Sakit Akademik (RSA) UGM Yogyakarta Siswanto SpP menyebut pasien disebut mengalami long COVID di Indonesia jika membutuhkan perawatan hingga empat pekan atau lebih. Biasanya ini terjadi pada pasien yang kondisinya parah. Gejala yang dirasakan tidak hanya di organ paru-paru, tetapi juga bisa menyebar ke organ lain.

“Mereka yang severity-nya makin berat, makin berpeluang untuk terjadinya long COVID, ataupun geriatri, punya penyakit penyerta atau dia mendapatkan terapi oksigen yang lebih advance, seperti NIV atau mechanical ventilator,” kata Siswanto.

Siswato berbicara dalam diskusi daring Long COVID dan Pemulihan Pasca COVID-19, Minggu (25/7) yang diselenggarakan Keluarga Alumni Universitas Gadjah Mada (KAGAMA).

Dia menambahkan, ada tiga golongan terkait kondisi ini. Jika gejala dan tanda COVID masih ditemukan pada pasien hingga empat pekan, disebut sebagai acute COVID. Pada rentang 4-12 pekan, dinamakan sebagai ongoing symptomatic COVID. Sedangkan jika masih bergejala hingga lebih dari 12 pekan, disebut post-COVID syndrome. Dua jenis yang terakhir inilah yang disebut sebagai long COVID.

Kondisi ini memiliki sejumlah sebab. Siswanto merinci, kemungkinan pertama adalah karena kerusakan sel secara lokal ketika virus masuk ke dalam jaringan tubuh. Organ tubuh yang bisa mengalami kerusakan tidak hanya paru-paru sebagai reseptor atau pintu masuk virus. Pembuluh darah dan jantung serta organ lain juga bisa mengalami kondisi yang sama.

“Kedua, adalah apakah kemudian infeksi itu menyebabkan kerusakan yang permanen. Kerusakan permanen terjadi karena saking beratnya serangan itu,” kata Siswanto.

Baca juga: Mau Cepat Turunkan Berat Badan? Konsumsi 7 Buah Ini Saja 

Sebab ketiga adalah inflamasi secara terus-menerus, karena terjadi disregulasi atau respons imun tubuh yang tidak semestinya. Keempat ada perusakan pembuluh darahnya, dan penyebab terakhir adalah faktor stres yang dialami oleh pasien.

“Jadi enggak cuman aspek fisik, tapi juga aspek psikisnya juga bisa berpengaruh,” tambahnya.

Dampak jangka panjangnya, lanjut Siswanto, dapat dipetakan menurut apa yang terjadi. Jika sampai menimbulkan jejas di otot jantung, maka akan terjadi cardiac injury atau cedera jantung yang juga memiliki dampak jangka panjang. Di organ paru, dampaknya cukup jelas. Selain itu, otak juga bisa menerima dampak jangka panjang, termasuk indra penciuman.

“Penting sekali seseorang yang sudah terkena long COVID dilakukan monitoring untuk memastikan bahwa proses penyembuhannya berjalan sempurna,” tambah Siswanto.

Halaman:
      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita women lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement