Di sini Diah belajar benar-benar dari nol. Dia mengaku belajar dengan sungguh-sungguh menggunakan buku yang di-fotocopy. "Meski begitu, Pak Habibie memberikan mentor untuk saya," kata Diah.
"Saya dapat kesempatan untuk belajar badan pesawat. Waktu saya di-hire boeing, saya kerja yang benar-benar saya enggak tahu. Sesuatu 'I have not clue at all'. Sedangkan, saya ketika mendapat pekerjaan itu menggantikan orang hebat di perusahaan tersebut. Jadi ekspektasi orang-orang luar biasa, sedangkan saya gak tahu apa-apa karena teknologinya beda. Teknologi untuk interior pesawat berbeda dengan badan, ekor, atau sayap," paparnya.
Karena situasi itu, Diah mengaku sempat frustasi. Dia menangis dan bilang ke suami untuk izin pulang kembali ke Indonesia. Tapi, suaminya bilang 'dibikin enak'.
Setelah dicoba lagi, ternyata masih belum dapat enaknya. "Lalu, suami saya bilang kalau saya datang ke Amerika mungkin ada hal yang Allah SWT ingin tunjukan. Sesudah itu, saya sadar. Mungkin ini amanah dari Allah," tambah dia.
Sejak saat itu sampai sekarang, Diah menjadi insinyur senior di salah satu perusahaan pesawat Boeing di Amerika Serikat. Ada satu pesan yang ingin disampaikan Diah untuk semua perempuan:
"Kalau kita menguasai masalah, kita jangan takut. Lalu,terbuka saja, kalau enggak tahu, ya, bilang enggak tahu. Jangan berhenti belajar, membangun kepercayaan itu juga penting," ucapnya penuh bangga.
Hal menarik lainnya adalah meski sudah lama menetap di Amerika Serikat, Diah ternyata mengajarkan bahasa dan budaya Indonesia ke anaknya. Tidak hanya itu, dia mengajarkan makna Islam yang damai kepada anaknya.
(Dyah Ratna Meta Novia)
Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.