TEMPAT ibadah merupakan tempat suci yang biasanya memberikan kedamaian dan ketenangan bagi seseorang. Tapi nyatanya di Jepang, tepatnya di Toyohashi, Aichi, ada sebuah kuil menyeramkan, yaitu Kuil Asma.
Kuil Asma adalah tempat untuk menyembuhkan penyakit. Terdapat tiga area utama kuil yang diberi nama berdasarkan bagian tubuh. Pertama adalah Ashi Asa Jinja atau Kuil Kaki. Ashi Asa Jinja dipercaya sebagai tempat penyembuhan penyakit kaki.
Kedua ada Hara Asa Jinja yaitu Kuil Kepala. Kuil ini tempat untuk menyembuhkan penyakit perut. Dan yang terakhir ada Atama Asa Jinja atau Kuil Kepala. Atama Asa Jinja merupakan tempat untuk menyembuhkan penyakit kepala.
Baca Juga: Kisah Mistis di Balik Riuhnya Tarian Barongsai

Kuil ini berdiri di tengah-tengah perbukitan. Hutan rimbun yang mengelilinginya membuat letak Kuil Asma menjadi sangat terpencil dan jauh dari keramaian. Karena lokasinya, para bandit gunung pun memanfaatkan Kuil Asma menjadi tempat perkumpulan mereka.
Bandit-bandit tersebut sangatlah sadis. Mereka biasanya menjarah para pengunjung kuil. Lalu, membunuhnya dengan cara memotong leher korban. Inilah mengapa Kuil Asma juga dikenal dengan sebutan Kubikari Jinja atau yang berarti Kuil Pemburu Leher.
Belum lama ini akun YouTube Daisuke Botak membagikan pengalamannya saat berkunjung ke Kubikari Jinja. Di jalan menuju Kubikari Jinja tidak terlihat ada satu lampu pun. Penerangan satu-satunya hanya berasal dari lampu mobil dan senter yang mereka bawa.
Untuk sampai ke kuil pertama yaitu Ashi Asa Jinja, Daisuke dan rekan-rekannya harus melewati sebuah tangga yang memiliki 270 pijakan. Sisi kanan dan kiri tangga adalah pohon-pohon besar yang membuat suasana semakin horor.
Melewati tangga tersebut tidak boleh sembarang. Ada aturan yang mengatakan bahwa anak tangga pertama dan ketiga tidak boleh diinjak. Katanya, anak tangga pertama dan ketiga adalah tempat bandit gunung meletakan kepala korbannya. Pengunjung yang menginjak dua anak tangga itu dipercaya akan merasa tidak nyaman di bagian kepala selama di Kubikari Jinja.
Tangga tersebut juga menjadi saksi bisu penyerangan para bandit gunung terhadap pengunjung kuil. Ada sebuah kepercayaan yang mengatakan bahwa siapa saja yang melewati tangga itu bersama-sama harus selalu menghitung jumlah rombongannya. Mereka juga harus selalu mengecek kondisi anggota yang berdiri di barisan paling belakang. Jika tidak, orang di paling belakang akan hilang.