Naniura
Naniura merupakan makanan berbahan dasar olahan ikan yang dimakan secara mentah. Naniura juga merupakan kuliner khas Batak yang paling terkenal karena ikannya yang tidak dimasak melainkan hanya dibumbui. Dalam bahasa Batak, Naniura berarti ikan yang diasami.
Makanan tersebut tidak dimasak, digoreng, maupun direbus, akan tetapi dimatangkan dengan cara merendamnya dengan air asam lengkap dengan berbagai macam bumbu selama beberaa jam. Direndam dengan air asam jungga atau jeruk peruk, penggunaan asam inilah yang akan mematangkann daging ikan secara merata.
Rasa dari Naniura sendiri sedikit ketir di lidah dan pecah di mulut. Perpaduan rempah-rempah dan bumbunya membuat makanan ini terasa pedas, manis hingga segar.

Naniura (Instagram @dapurcvill)
Pohul-Pohul
Pohul-Pohul merupakan kue dan kudapan khas tradisional Batak dari Tapanuli. Memiliki bentuk yang unik seperti kepalan, Pohul-Pohul diambil dari bahasa Batak yang artinya kepalan tangan. Ada dua cara dalam menyajikan kue ini yaitu dibiarkan mentah atau dikukus.
“Pohul-Pohul merupakan makanan tradisional berbahan dasar beras yang dihaluskan dengan campuran kelapa parut, gula, dan sedikit air” Tulis keterangan dari Kemenparekraf. Dahulu makanan ini sering disajikan dalam acara adat Batak Marhusip, yaitu sebuah musyawarah adat persiapan pernikahan,
Pohul-Pohul juga sarat akan makna filosofis. Pertama, pohul-pohul dibentuk dengan diremas secara kuat sehingga membentuk kue yang tidak mudah hancur. Kedua, bekas lima jari dalam permukaan kue melambangkan dua hal, yaitu jabatan tangan tanda kesepakatan dan lima waktu penting dalam budaya Batak atau disebut hatihasilima.
(Salman Mardira)