Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

5 Tanda Toxic Maskulinitas Pria dalam Suatu Hubungan

Wilda Fajriah , Jurnalis-Rabu, 02 September 2020 |20:31 WIB
5 Tanda Toxic Maskulinitas Pria dalam Suatu Hubungan
Ilustrasi (Foto : Timesofindia)
A
A
A

Toxic maskulinitas adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan pria dan bagaimana mereka bisa menjadi 'pria' yang sesungguhnya. Hal ini banyak terjadi di dalam hubungan kerja, sekolah, bahkan percintaan.

Pria melakukan tersebut karena telah ditentukan oleh gagasan stereotip masyarakat patriarkal. Banyak dari kita cenderung memberi tahu anak laki-laki kita bagaimana mereka tidak boleh menyerah pada emosi mereka dan harus bertindak seperti laki-laki.

Dengan melakukan itu, kita membangkitkan jiwa yang memilih untuk menekan emosi mereka dan berkembang dalam stereotip yang merusak. Meski begitu, anak laki-laki yang sama menjadi pria dewasa dan mematuhi aturan patriarki yang sama.

Bahkan ketika dalam suatu hubungan, mereka cenderung menyembunyikan banyak hal dari pasangannya dan alih-alih mendiskusikan keluhan mereka dan berbagi masalah mereka, mereka membiarkan maskulinitas beracun masuk dan menghancurkan ketenangan pikiran mereka.

Sementara banyak pria cenderung bangga dengan kejantanan sebagai seorang pria, mereka diam-diam menjadi korban dalam proses tersebut, yang pada gilirannya menciptakan hubungan yang beracun dengan keluarga, rekan kerja, dan bahkan pasangan mereka.

Baca Juga : 4 Pesona Aduhai Wika Salim, Body-nya Makin Singset

Dalam kehidupan kita sehari-hari, kita mungkin mengabaikan implikasi dari maskulinitas yang dibangun secara sosial seperti itu. Akan tetapi, hal tersebut juga bisa menjadi akar masalah baik dari segi mental pria itu sendiri maupun orang-orang di lingkungannya.

Melansir Times of India, berikut merupakan 5 tanda halus dari toxic maskulinitas yang digambarkan pria dalam suatu hubungan.

Pria harus selalu menang

Pacaran

Menang dan kalah merupakan dua sisi yang biasa terjadi dalam sebuah argumen, bahkan dalam urusan rumah tangga. Bagi beberapa orang, menang dan kalah bukanlah sesuatu yang penting. Tetapi bagi seorang pria yang menderita toxic maskulinitas, hal itu menjadi sangat penting karena dalam mindset mereka, pria harus selalu menang.

Berbeda dengan wanita, tidak ada kemungkinan mereka akan menerima kekalahan, sebaliknya mereka akan bekerja keras untuk membuktikan pendapat mereka, yang mungkin akan disetujui oleh pasangan mereka.

Pria rentan terhadap kemarahan dan kekerasan

Dalam suatu hubungan, ada kejadian di mana pertengkaran kecil dapat menyebabkan sesuatu yang memanas. Tetapi masalah sebenarnya muncul ketika rangkaian ketegangan ini berbentuk kekerasan.

Seringkali, pria yang menjadi korban toxic maskulinitas cenderung percaya bahwa mereka secara fisik lebih kuat daripada wanita dan oleh karena itu lebih rentan terhadap kemarahan dan kekerasan.

Pria harus selalu melindungi pasangannya

Fakta bahwa pria diharapkan untuk menjaga wanita mereka setiap saat dan kebutuhan mereka untuk selalu melindungi mereka dari bahaya tidak hanya sangat mengecilkan hati bagi kaum wanita untuk membela diri mereka sendiri, tetapi juga sangat membuat stres bagi pria.

Pria harus selalu memberi kejutan kepada pasangan

Pacaran

Menyenangkan pasangan memang sudah menjadi kewajiban bagi para pria. Dari mulai kejutan ulang tahun hingga pernikahan, semua seakan sudah menjadi norma bagi pria.

Selama pria tersebut mampu membelinya, tentu hal itu akan menjadi sangat menyenangkan. Tetapi, ketika kondisi ekonomi mulai terpuruk, pria tersebut terus-menerus berada di bawah mimpi buruk karena tidak bisa memberi pasangannya kejutan lagi.

Menghindari argumen dengan mengatakan "Ini urusan pria"

Apakah benar-benar ada sesuatu yang hanya bisa diketahui oleh para pria saja? Atau itu hanyalah gagasan stereotip yang sudah terbentuk sejak dahulu?

Apapun itu, itu hanyalah bentuk lain dari toxic maskulinitas yang perlu didiskusikan. Paling sering dalam setiap hubungan, pria menggunakan trik ini untuk menghindari pertengkaran dan percakapan yang diperlukan.

Namun, apa yang gagal mereka sadari adalah bahwa mereka hanya cenderung pada gagasan patriarki tentang stereotip gender, yang pada gilirannya akan menusuk mereka dari belakang dengan cara yang berbeda.

(Helmi Ade Saputra)

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita women lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement