Dilansir Okezone dari BBC Indonesia, Hiroshi Sugihara, seorang penjual ikan dan penggemar fermentasi asal prefektur Aichi, Jepang, kemudian pindah ke Perth, Australia, menyaksikan kebangkitan budaya fermentasi secara langsung.
Sejak lama Hiroshi menggemari fermentasi miso dan doburoku (sejenis sake), ia memperkenalkan amazake, minuman dari masa kecilnya, ke grup tersebut.
"Sangat menarik dan ada reaksi beragam dari [anggota] Kaukasia tetapi orang Asia dapat menghubungkannya dengan beberapa permen tradisional mereka," katanya.
Sugihara suka mengingat pengalamannya minum amazake panas di kuil pada Malam Tahun Baru. Karena diyakini memiliki kualitas menghangatkan (terutama karena jahe, yang sering digunakan untuk menambah rasa), minuman ini cenderung banyak dikonsumsi selama musim dingin, periode yang mencakup beberapa hari libur besar, termasuk "Festival Boneka" Hinamatsuri.
Hal ini mengakibatkan banyak orang Jepang menganggap minuman itu sebagai sesuatu yang menghubungkan budaya nasional masa lalu dan masa kini.
Seperti dijelaskan Shihoko Ura, penulis blog makanan Chopstick Chronicles, ingatannya akan amazake dipenuhi dengan banyak sentimentalitas, terutama sekarang setelah ia bermigrasi ke Australia.
"Saya dulunya anggota Palang Merah di Kota Ise, Prefektur Mie, lokasi Kuil Ise yang terkenal itu," kenangnya.
(Dewi Kurniasari)
Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.