Sebelum jatuh sakit, selain bekerja di RSCM, Ninuk tengah mengambil kuliah D-4 keperawatan di Jakarta Selatan serta menjalani praktik lapangan di Rumah Sakit Jiwa Dr. Soeharto Heerdjan, Grogol, Jakarta Barat.
Ninuk yang berdomisili di Cikarang dan beraktivitas dengan kereta commuter line ini pernah menderita radang paru-paru. "Kalau saya pribadi (berpikir), mungkin dia (terinfeksi) di RSCM atau RS Grogol," kata Arul.
Arul mengatakan sepengetahuannya, istrinya tidak memakai APD untuk menghadapi pasien yang mungkin mengidap Covid-19 saat bertugas. Apalagi RSCM bukan merupakan rumah sakit rujukan COVID-19.
Istrinya juga tidak tahu menahu apakah ia sedang atau pernah menangani pasien dengan COVID-19, kata Arul. Jika pemerintah mengetahui adanya kasus COVID-19 lebih cepat, Arul yakin rumah sakit akan lebih sigap menangani penyakit itu. "Kalau ada informasi, minimal rumah sakit kan pasti tahu seperti apa manajemennya," ujar Arul.
Ninuk sempat dikabarkan terkena virus corona setelah merawat seorang WNA Korea Selatan dengan gejala COVID-19 pada bulan Februari 2020. Namun, RSCM enggan mengonfirmasi hal itu, meski tidak membantahnya.
"Maaf, kami tidak dapat membahas hal tersebut. Semua kasus disampaikan melalui Jubir Nasional yang ditunjuk presiden. Demikian," ujar Direktur Utama RSCM Lies Dina Liastuti dalam pesan tertulis.
Sejauh ini, Jubir Nasional yang ditunjuk Presiden Joko Widodo, Achmad Yurianto, tidak membuka keterangan terkait penelusuran (tracing) suatu kasus. Lies juga tidak mau menjawab tentang apakah WNA Korea Selatan itu betul terinfeksi virus corona. "Untuk positif dan negatif, data ada di Litbangkes (Kemenkes)," ujarnya.
Menurut Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (UI), dr. Ari Fahrial Syam, petugas kesehatan dapat tertular langsung dari pasien baik di poli klinik maupun di rawat inap. "Terus terang ini juga sudah saya prediksi, bahwa model penyebaran kontak langsung seperti saat ini membuat petugas kesehatan bisa menjadi korban," ujarnya.