Tanggal 12 Maret 2020 menjadi hari yang tidak bakal terlupakan bagi Arul dan dua orang anaknya. Hari ketika Ninuk (37), sang istri sampai di titik napas terakhir berjuang melawan virus Corona (COVID-19).
"Saya sebagai ayahnya, saya bilang Mama itu pahlawan. Mereka bangga punya ibu seperti itu, yang secapek apapun setelah dinas, nggak pernah marah atau menunjukkan dia lelah," ujar Arul dikutip dari laman BBC News Indonesia, Senin (30/3/2020).
Ketabahan Arul ini muncul karena mengingat pesan terakhir Ninuk yang berprofesi sebagai seorang perawat di RS Cipto Mangunkusumo (RSCM) Jakarta Pusat. Almarhumah Ninuk berpesan, "Saya hidup untuk orang yang saya sayangi dan mati untuk orang yang saya sayangi, termasuk (untuk) profesi saya."
Arul mengingat kembali perjuangan sang istri semasa hidup. Setelah 12 tahun menjadi perawat di instalasi Intensive Care Unit (ICU), Ninuk menyerah terbaring lemah sebagai pasien di RSCM karena penyakit yang dideritanya sejak awal Maret.
Ia mengalami rasa lelah yang amat sangat, demam hingga 39 derajat Celcius, diare, hingga sesak napas. Tubuh Ninuk tak hentinya berpeluh, sementara hidungnya terus berair. Ia juga mengeluh pinggangnya terasa nyeri.
Arul menemaninya sambil menyeka keringat dan mencoba meredakan nyeri di pinggang sang istri dengan obat gosok. "Saya bilang tenang saja. Allah yang memberikan sakit, Allah juga yang menyembuhkan. Saya hanya bisa menyemangati saat itu," kata Arul.
Menjelang malam, Ninuk semakin kesulitan bernapas hingga ia harus dibantu dengan ventilator. "Di ruang isolasi (IGD RSCM), kami panggil petugas medis, perawat, susah. Saya pantau saat almarhum dipasangi ventilator…Saya juga yang nengok-nengok, kadang-kadang (alatnya) error karena dia gelisah, tercopot alatnya. Saya panggil petugas medis baru dipasang ulang," ujar Arul.
Keesokan harinya, keluarga dilarang untuk bertemu dengan Ninuk. Ninuk dibawa pihak RSCM ke RSPI Sulianti Saroso, Jakarta Utara, rumah sakit rujukan COVID-19 di Jakarta. Dia diisolasi hingga akhirnya meninggal dunia. Menurut data Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI), Ninuk adalah perawat pertama yang tercatat meninggal akibat virus corona (COVID-19).
Sepeninggal Ninuk, Arul dan dua buah hatinya menjalani tes swab. Hingga dua pekan setelah Ninuk mengembuskan napas terakhir, hasil tes belum dirilis oleh pihak terkait. "Prosesnya kok lama banget? Kami kasihan sama tetangga. Mereka sampai sekarang belum bisa berangkat kerja karena nunggu hasil tes saya," ujarnya.
Padahal, kebanyakan dari tetangganya, kata Arul, adalah pekerja pabrik. Hingga kini, Arul mengatakan dia dan anak-anaknya dalam keadaan sehat, meski kedua anaknya sangat terpukul dengan kepergian sang ibu. Lantaran mereka tidak bisa memasuki ruangan isolasi maupun melihat wajah jenazah ibunya karena perlakuan khusus yang diterapkan pada pasien dengan COVID-19. Arul hanya bisa memberi mereka pengertian.
Sebelum pemerintah mengumumkan kasus COVID-19 pertama pada 2 Maret 2020, tenaga medis di sejumlah fasilitas kesehatan menangani pasien seperti biasa, tanpa Alat Pelindung Diri (APD) khusus. Beberapa dari mereka terindikasi terinfeksi virus corona (COVID-19) dan meninggal dunia. Darimana Ninuk tertular virus?