Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Yogyakarta Sebar Bakteri Wolbachia untuk Berantas Nyamuk DBD

Yogyakarta Sebar Bakteri Wolbachia untuk Berantas Nyamuk DBD
Ilustrasi. (Shutterstock)
A
A
A

SETELAH sukses memberantas demam berdarah di sebuah kota di Australia, sebuah lembaga nirlaba menjadikan Yogyakarta di Indonesia sebagai target selanjutnya. Lembaga World Mosquito Program yang berkiprah di Yogyakarta melihat fakta bahwa jumlah kasus demam berdarah (DBD) di sana cukup tinggi.

Berdasarkan data Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta, pada 2016, jumlah pasien yang dirawat karena DBD mencapai 1.076 orang dan 13 di antara mereka meninggal dunia.

nyamuk

Setahun sebelumnya, terdapat 945 pasien DBD dengan 11 kasus kematian. Tren kasus DBD di Yogyakarta ini hendak diputus menggunakan bakteri wolbachia untuk memberantas nyamuk penyebab DBD.

Dilansir Okezone dari BBC News Indonesia, laman World Mosquito Program menyebut, upaya menyebarkan nyamuk-nyamuk dengan bakteri Wolbachia di Yogyakarta, telah berlangsung sejak Januari 2014, melalui program penelitian yang dipimpin Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada dan didanai oleh Yayasan Tahija.

Salah satu peneliti program tersebut, Adi Untarini, mengatakan, Wolbachia merupakan bakteri yang diketahui dapat menekan replikasi virus dengue. Karenanya dianggap mampu berkompetisi dengan virus, saat merebut makanan di sel tubuh nyamuk aedes aegypti. Dengan demikian nyamuk penyebab demam berdarah sudah tidak lagi membawa virus dengue.

Secara terpisah, ahli serangga dalam program tersebut, Warsito Tantowijoyo, mengatakan, masih perlu waktu dan proses untuk mengetahui efektivitas penyebaran nyamuk-nyamuk dengan bakteri Wolbachia. Menurutnya, pengambilan kesimpulan mungkin pada 2019 mendatang.

Sebagaimana dikutip di laman UGM, kasus DBD di Kota Yogyakarta sepanjang 2017 mengalami penurunan yang cukup signifikan. Hingga Oktober 2017, terdapat 383 kasus dengan dua pasien yang meninggal dunia.

"Menurunnya jumlah kasus tersebut kemungkinan besar dipengaruhi adanya program penyebaran nyamuk ber-Wolbachia yang disebar di 12 wilayah di kota Yogyakarta sejak pertengahan tahun lalu. Penyebaran nyamuk ber-Wolbachia masih berlangsung hingga akhir tahun 2019 ini," sebut laman UGM.

Namun begitu, Kepala Bidang Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2PL) Kota Yogyakarta, Yudiria Amelia, belum berani menyimpulkan penurunan jumlah kasus DBD tersebut berkat program pelepasan nyamuk-nyamuk ber-Wolbachia oleh UGM.

Menurutnya, penurunan kasus DBD juga dipengaruhi faktor cuaca yaitu curah hujan yang turun tahun ini tidak begitu merata sepanjang musim.

"Kami belum bisa menyimpulkan apakah ini hasil dari EDP, apalagi penelitian ini masih berlangsung. Kalau kita lihat hujan yang turun tahun ini tidak merata seperti tahun-tahun sebelumnya, saya kira bisa menjadi faktor menurunnya kasus DBD," kata Yudiria Amelia kepada wartawan di kampus UGM.

(Dewi Kurniasari)

Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita women lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement