Dalam kepercayaan Firaun kuno, dewa Sobek berkepala buaya mewujudkan sifat Sungai Nil dan didoakan untuk perlindungan dari banjir tahunan. Sebuah kuil didedikasikan untuk Sobek di Kom Ombo.
Kuil tersebut diukir dengan piktogram dan hieroglif yang merinci pembalseman buaya sungai Nil. Hingga hari ini, orang Nubia masih mempertahankan tradisi taksidermi buaya. Mereka tetap setia menggunakan teknik yang sudah berusia selama berabad-abad. "Meskipun kami tahu betul harga kulit buaya, tapi kami tidak menjualnya, kami menghargainya," jelas Hassan.
Seekor buaya sungai Nil yang mati akan dikuliti dan dari perutnya akan diisi dengan jerami atau serbuk gergaji. Buaya besar membutuhkan waktu sekira satu bulan untuk dijadikan mumi sedangkan yang lebih kecil mengering dalam beberapa hari.
Abdel-Hakim Abdou, seorang pemilik kafe berusia 37 tahun merekomendasikan terarium Hassan sebagai objek wisata yang harus dilihat. Pasalnya Hassan akan menceritakan tentang pentingnya buaya sungai Nil bagi masyarakat Nubia. "Sungai Nil untuk Nubia melambangkan kehidupan. Semua yang berada di dalamnya kita anggap sebagai malaikat," tutupnya.
(Muhammad Saifullah )