Direktur Utama Ferron Krestijanto Pandji mengungkapkan, dalam mengawal penanganan kanker, terpenting adalah setiap ada pasien terkena atau terpapar kanker, pihak industri dan pemerintah ada obatnya. Namun yang terjadi selama ini, impor obat kanker masih dilakukan, sehingga pasien kerap mengeluhkan harga obat kanker impor itu mahal.

"Kita mengimbau bagaimana pemerintah menggunakan obat obat dalam negeri. Daripada kita impor, menggunakan produksi dalam negeri yang kualitasnya bagus," paparnya.
Obat kanker buatan dalam negeri, kata Krestijanto, sebetulnya 80 persen sudah memenuhi kebutuhan. Dengan demikian, diharapkan obat buatan dalam negeri bisa menggantikan obat kanker impor karena kualitasnya setara.
(Martin Bagya Kertiyasa)