Sejak divonis mengidap kanker rahim, Febria Silaen sebetulnya sudah mencoba ikhlas dan menerima takdir yang harus dia jalani. Namun, dia justru merasa terpukul ketika melihat respon dari orang-orang sekitarnya.
Alih-alih mendapat dukungan moril, Febria Silaen malah menerima penghakiman dari orang-orang terdekatnya.
"Yang divonis harus kemoterapi itu ternyata harus siap sakit dan disakiti. Lho kok gitu? Lah iya. Enggak percaya? Pas orang tahu kamu perlu dikemoterapi. Lalu orang kasak-kusuk, pasti salah makan, pasti doyan jajan a-z, merokok, bergadang, males olahraga. Sederet penghakiman bakal datang suka-suka hati yang bicara," ungkap Febria.
Tak berhenti di situ saja. Sesudah melakukan kemoterapi, penghakiman itu masih terus berlanjut. Padahal, kondisi tubuhnya belum pulih 100 persen.
Rasa mual, pusing, gatal, seolah menjadi 'sahabat' Febria Silaen selama menjalani kemoterapi. Ditambah lagi hilangnya nafsu makan dan efek samping lain seperti muntah-muntah.
Hal tersebut ternyata tidak cukup untuk menyadarkan orang yang ada di sekitarnya berhenti menstigma. Padahal yang dibutuhkan Febria Silaen kala itu hanyalah dukungan dan doa yang tulus dari hati.
Tapi apa yang dia dapatkan? Lagi-lagi penghakiman dan kalimat-kalimat yang tanpa disadari telah melukai hatinya.
"Enggak bisa makan eh malah dicecer lagi dengan makanan yang super bersih dan harus dimakan. Kalau gak mau? Ya siap siap disakiti telinga dengan kalimat 'Mau sembuh, makan dong! Ini bagus mengandung a-z yang dibutuhkan. Kamu semangat dong!'," kata Febria Silaen.
Bersambung
(Dewi Kurniasari)
Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.