Gunung Kidul tengah dilanda wabah antraks. Untuk pencegahan antraks, perlu meningkatkan kesadaran masyarakat.
Perlu diketahui bahwa antraks adalah penyakit yang disebabkan oleh bakteri Bacillus anthracis yang dapat menyerang hewan dan manusia. Masa inkubasi antraks terjadi selama kurang lebih 7 hari, tetapi umumnya berkisar antara 2-5 hari.
Wabah ini juga terbagi menjadi beberapa kategori antara lain, antraks kulit, antraks pencernaan, hingga antraks pernapasan. Gejala pada antraks kulit ditandai oleh luka pada kulit berwarna hitam dan mengering dikelilingi bengkak.
Sementara gejala antraks pencernaan disinyalir berupa demam, mual, muntah darah, nafsu makan menurun, nyeri perut, diare berdarah. Lalu untuk antraks pernpasan gejalanya adalah demam, batuk, dan sesak nafas.

Antraks bisa ditularkan melalui udara yang mengandung spora bakteri, makanan atau daging yang terkontaminasi bakteri antraks, rumput mengandung spora bakeri antraks, produk hewan mengandundung bakteri antraks dan bahan pakan yang terkontaminasi bakteri antraks.
Anung mengatakan, pencegahan dan pengendalian antraks pada manusia bisa dilakukan dengan berbagai cara. Bila seseorang diduga mengalami gejala antraks, sebaiknya segera dibawa ke puskesmas atau rumah sakit terdekat.
Kemudian gunakanlah alat pelindung diri seperti sepatu boots dan sarung tangan bila melakukan kontak dengan hewan sakit atau mati. Jangan lupa mencuci tangan setelah memegang hewan ternak sakit atau mengolah bahan hewan.
"Yang paling penting, tidak mengonsumsi bahan makanan asal hewan yang sakit, tidak menyembelih hewan ternak sakit, tidak membuang sembarangan bahan asal hewan ternak yang sakit atau mati," tegasnya.
Bila menemukan hewan ternak yang mati karena sakit, segera kubur bangkai hewan itu dan berikan tanda khusus pada kuburannya. Selain itu, jangan sekali-kali menggali kuburan hewan mati akibat antraks.
"Warga juga bisa menggunakan desinfektan pada kandang dan halaman bekas hewan terjangkit antraks. Terakhir, harus dilakukan pengawasan pada tempat penjualan ternak atau pasar hewan, serta pengawasan sumber air yang terkontaminasi hewan antraks," tandasnya.
(Helmi Ade Saputra)