Kabar bunuh diri yang silih berganti tentu membuat kita harus lebih peduli dengan mental health dan dampak bully yang kerap dilakukan. Apalagi hal tersebut menyangkut seorang public figur yang kehidupannya cenderung memiliki banyak tuntutan.
"Jika kita membahas public figur, sepertinya banyak dari mereka yang belum siap untuk terkenal, mereka belum siap dengan target dan kenyataan bahwa dirinya adalah mesin pencetak uang" ujar seorang psikolog bernama Meity Arianty STP,.M.Psi yang diwawancarai Okezone pada (17/12/19)
Tuntutan yang kian diberikan membuat para artis hanya memiliki sedikit waktu untuk berkumpul bersama orang-orang yang mereka sayangi. Hal ini tentu saja membuat para public figure menjadi tidak mendapatkan perhatian layaknya orang biasa.
"Menurut teori perkembangan psikososial, seseorang dengan umur 20 tahun keatas rentan membangun komitmen dengan orang terdekat, dan mereka juga membutuhkan banyak perhatian. Ketika mereka gagal dalam tahapan ini, maka mereka akan merasa stres, hampa, hingga depresi" tambahnya.
Kelelahan yang kerap dialami oleh public figur ternyata juga bisa menjadi salah satu pemicu dari depresi. Waktu istirahat yang tidak cukup selalu mengakibatkan kelelah berlebihan.
"Kelelahan juga menjadi salah satu penyebab depresi, karena mereka tidak dapat mengelola emosional mereka dengan baik, mereka lebih memilih untuk mengakhiri hidupnya. Seharusnya sebagai netizen dan penikmat karyanya, kita bisa memberikan pertolongan berupa semangat kepada para public figure, jangan membuat hidup mereka semakin berat" pungkasnya.
(Dinno Baskoro)
Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.