Dirinya menegaskan peradangan yang disebabkan oleh logam keras tidak akan terlihat jelas pada pengguna vape hingga memunculkan jaringan parut. Gejala baru muncul saat penyakit sudah tidak bisa disembuhkan. Hasil temuan ini kemudian diterbitkan dalam European Respiratory Journal.
Sementara itu, Profesor Jørgen mengatakan penelitian tentang rokok elektronik atau vape masih kurang banyak bila dibandingkan dengan penelitian menyangkut rokok konvesional. Beruntung sudah ada beberapa penelitian yang menunjukkan vape memengaruhi paru-paru. Selain itu, munculnya pasien yang didiagnosis dengan penyakit paru akut akibat vape bisa menjadi data pendukung.
"Profesi medis serta masyarakat harus peduli tentang gelombang baru penyakit paru-paru yang disebabkan oleh produk yang sangat dipromosikan oleh industri tembakau," pungkas Profesor Jørgen.
(Dinno Baskoro)